اهلا و سهلا

اهلا و سهلا

Sabtu, 31 Mei 2014

The Last Brownies





Matanya berkaca-kaca. Sambil menatap langit yang berhiaskan bintang dan bulan sabit, ia memaksakan diri untuk tersenyum. Merekahkan senyum kepada kerlap-kerlip cahaya di atas sana. Ia hanya berusaha husnudzhan kepada Sang Pencipta, bahwa semua akan bisa terlewati. Ia percaya, tak ada kebahagiaan dan kesedihan yang abadi di dunia ini. Semua hanya sementara.
Sebutir air mata bening pun meluncur dari pipinya. Mulai terisak. Perlahan, ia tertunduk menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan. Menangis. Tidak ada teman, kerabat, tetangga, ataupun keluarga di sampingnya saat ini. Dirinya benar-benar sendiri, seperti berdiri di atas bebatuan karang di tengah lautan seorang diri. Hidupnya sedang dipenuhi berbagai masalah, secara fisik maupun batin. Butuh perjuangan berat untuk menempati surga-Nya, katanya dua hari yang lalu.
Seolah ikut merasakan masalah, alam pun juga menangis. Hujan rintik dan perlahan-lahan deras baru saja turun. Wanita itu segera beranjak dari ayunan, masuk ke dalam rumah cepat-cepat. Kakinya memasuki ruang tamu. Tetesan air hujan yang sudah lekat di tubuhnya pun mulai membasahi lantai. Tiba-tiba wajahnya ia tempelkan ke jendela, menatap hujan yang turun semakin deras.
Pikirannya terbayang sosok anak perempuan duduk di kursi roda, sengaja hujan-hujanan bersama seorang ibu dan ayahnya. Mereka tertawa, bercanda, dan saling menyipratkan air satu sama lain. Terlihat bahagia sekali. Ah, kenangan itu. Dan bulir air dari bola mata coklatnya kembali terjatuh.
Tidak ingin berlarut dalam kenangan, ia mengusap pipinya yang belum juga kering, lalu membalikkan badan. Segera ke kamar mandi mengganti pakaian, dan menghangatkan diri menyeduh kopi di ruang tamu. Sendiri.
****
Waktu terus berjalan. Sekarang pukul 00.30 dini hari. Selarut itu, matanya belum terpejam, dipenuhi berbagai kata bagaimana, apa, mengapa, dan pikiran negatif lainnya. Tangannya meraih handphone, mencari menu kontak dan mengetikkan salah satu nama yang pernah ada di hidupnya. Menekan tombol call. Satu, dua, tiga detik, mulai tersambung. Agak lama, akhirnya si pemilik telepon pun mengangkat. Suara berat menyapa.
“Ada apa malam-malam begini telepon, hah? Tiara sudah tidur. Jangan ganggu dia!”
“Aku tahu Tiara sudah tidur, aku hanya ingin kau memenuhi permintaanku kali ini saja Sam,”
“Tak usah kau sebutkan aku juga sudah tahu apa permintaanmu. Hei, kau tahu sendiri bukan? Tiara itu tidak ingin berbicara bahkan bertemu denganmu barangkali satu menit saja, sudahlah Sekar..” terdengar suara helaan napas, ia melanjutkan. “Kau itu tak pantas dekat-dekat dengan anakku! Dirimu tidak lebih dari seorang wanita murahan! Jadi, itu alasan yang tepat agar kau menjauhi anakku.” kata-kata pria itu sangat menusuk hati Sekar. Sekar langsung menangis.
“Ini salah paham Sam, kau tak mengerti kejadian sebenarnya. Tak seharusnya kau menghinaku dengan kata-kata menyakitkan itu. Aku sudah tidak menyentuh dunia hiburan malam sedikitpun, aku di jebak Sam,” ia kembali terisak. Benar-benar terisak sampai suaranya parau.
“Halah, kau ini memang pemain sandiwara ulung Sekar, masa lalumu itu bisa dijadikan pegangan, kalau kau bisa saja sewaktu-waktu membalikkan fakta yang ada. Sekali murahan tetap saja murahan! Tiara sekarang sudah tidak membutuhkanmu, ia sudah punya ibu baru yang lebih baik daripada kau. Ia sangat bahagia, tidak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya. Jadi, jangan coba-coba ganggu dia! Ingat itu!”
“Tak masalah jika selamanya Tiara akan tinggal bersama kau dan istri barumu. Tapi Sam, statusku masih ibu kandungnya, ibu biologis dari Tiara. Tidakkah kau merasakan betapa aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku karena penyakit ini bersama anakku Sam..aku mohon, bujuklah dia agar mau menemui ibunya dan pulang ke rumahku, hanya untuk beberapa hari saja..” nada bicaranya kali ini sangat memohon. Namun sayang, Sam tetap bersikukuh.
“Oh, jelas tidak akan! Aku tidak akan mau merasakan apa yang kau rasakan. Itu karma bagimu! Dan justru itu, aku sangat tidak mau Tiara bersamamu lalu tertular penyakit itu. Enak saja!” helaan napasnya kembali terdengar. Sedikit menguap. Kemudian segera memberhentikan pembicaraan. “Stop! Berhenti menangis dan memohon kepadaku! Sudah..sudah! aku mengantuk, kau sangat mengganggu tidurku.”
Sambungan telepon terputus. Pertengkaran kecil tadi menghabiskan waktu setengah jam. Energi wanita itu terkuras. Ia kembali terbatuk hebat. Kepalanya pusing, rasanya ingin muntah, badannya seperti demam. Semenjak ia terdeteksi mengidap penyakit HIV, kondisi kesehatannya semakin menurun drastis. Belum lagi kondisi batinnya yang sangat tidak karuan. Ia benar-benar down. Sekarang, ia hanya memaksakan diri untuk segera memejamkan mata. Tetap optimis, semua akan baik-baik saja.
****
Masih pada waktu dini hari yang sama, di sisi lain, rumah berlantai dua yang terkesan megah itu sudah ada kehidupan. Di kamarnya yang luas serta bercat biru laut dipenuhi boneka teddy bear, ia terjaga. Berkedip-kedip menatap langit-langit kamar sambil memeluk boneka sangat erat. Pikirannya dikelilingi banyak hal. Termasuk tentang ibu kandungnya. Ya, dialah Tiara.
Entahlah, ia sudah terjaga dalam diam sejak lama atau baru sebentar, yang jelas tiba-tiba hatinya merasakan gejolak penolakan yang telah ia lakukan selama ini kepada ibunya. Ia merasa, dirinya bukanlah Tiara yang dulu. Yang selalu tersenyum saat ibunya pulang, yang selalu berkata lemah lembut, yang selalu bercerita apa yang ia mimpikan semalam, dan semua perilaku baiknya ia tunjukkan pada orang yang melahirkannya itu. Hatinya belakangan ini tidak tenang, diliputi segala kegelisahan tak berujung setiap kali ia melakukan hal yang biasanya tidak pernah ia lakukan. Selalu bertanya pada diri sendiri, mengapa ia sampai bersikap seperti itu kepada Ibunya.
Pikirannya memang masih labil. Wajar, ia baru berusia 14 tahun. Salah satu faktor yang juga memengaruhi emosinya adalah kondisi fisiknya yang hanya bisa beraktivitas di kursi roda. Kadang-kadang emosinya tak terkendali. Dahulu, ia sering memaki diri sendiri kenapa ia tidak bisa berjalan, tidak punya kaki, dan makian-makian yang lain. Namun, dulu Sekar selalu berhasil membesarkan hati anaknya. Sekarang, dan untuk kali ini, makian itu selalu ditujukan pada ibunya di telepon maupun saat bertatap muka langsung. Semua itu tidak lain adalah karena pengaruh-pengaruh dari ayah dan ibu tirinya untuk membenci Sekar karena ia dianggap membawa penyakit menular, bisa membahayakan dirinya, dan bukan sosok ibu yang baik. Karena itulah, Tiara yang sekarang berbeda dari Tiara yang dulu.
Tiara kembali memiringkan tubuhnya, mengenang masa-masa menyenangkan bersama ibunya. Sebelum ia pindah ke rumah ayahnya.
“Maa, ayo buruaan..Tiara udah nggak sabar nih, pengen cepet-cepet bisa makan brownies,” Tiara berteriak dari dapur, memanggil Mamanya yang masih di dalam kamar, di depan laptop.
“Iyaa sayaang, bentaar..Mama beresin dulu,” jawabnya yang juga berteriak. Tangannya cekatan membereskan charger, laptop, dan beberapa lembaran kertas yang berserak di kasurnya. Segera menuju dapur.
“Aduuh, Mama lama banget deh. Perut Tiara udah nggak sabar nih Maa,” suara nyaringnya langsung membuat gema di dapur. Sekar hanya tersenyum, menyambar celemek dan mengambil bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat karya andalannya, brownies kukus.
Telur, gula pasir, terigu, dan vanili sudah siap sedia di meja. Tiara juga telah mengenakan celemek, tangannya memegang baskom dan mixer. Senyum-senyum. Ia sudah siap memasak!. Dengan terampil, tangan Sekar–juga Tiara–memasukkan telur, gula pasir, TBM, dan vanili ke dalam baskom. Tugas anak perempuan itu adalah, mengocoknya sampai mengembang.
Sementara itu, Sekar segera mencari terigu, coklat Van Hauten, susu coklat, dan pasa coklat untuk langkah selanjutnya. Tak ketinggalan, ia pun mengambil loyang persegi berukuran sedang. Sesekali anaknya menanyakan pada ibunya, apakah adonan yang ia buat sudah mengembang atau belum, dan jawaban Sekar hanya gelengan, sambil tersenyum. Kebalikan dengan ekspresi anaknya, yang justru agak kusut karena tangannya sudah pegal memutar-mutarkan mixer.
Di sela-sela membuat brownies, dengan jahilnya tangan Tiara menempelkan tangannya yang belepotan gandum, dan mencubit pipi ibunya. Menjadi cemong. Seakan tidak terima, Sekar pun membalasnya. Alhasil, jadilah ‘permainan’ seru antara ibu dan anak. Setelah semua tercampur dan tinggal menunggu matang dalam kukusan, Sekar jongkok, menatap anaknya lamat-lamat dan memegang kedua lengannya. Erat.
“Sayang..makasih banyak ya, udah jadi anak yang baik buat Mama,”
“Harusnya Tiara yang banyak-banyak bilang terima kasih sama Mama, soalnya kalau nggak ada Mama, Tiara nggak akan jadi seperti ini. Karena Mama, aku jadi lebih bisa menghadapi kehidupan ini dengan syukur, kuat, sabar dan ceria. Seperti pesan Mama. Terima kasih Maa..” jawabnya dengan ceria.
Mata Sekar berkaca-kaca. Merasakan betapa beruntungnya ia memiliki anak seperti Tiara. Berpelukan erat-erat.
“Udah ah Ma, jangan pake nangis-nangis..hehe. Kan sekarang bukan halal-bihalal, aku aja nggak nangis. Masa’ Mama nangis sih, huu cengeng.” Ia sudah melepas pelukan, tertawa terbahak sedikit meledek.
“Ah kamu ini Nak, bisa saja.” Ia menanggapi singkat, mengusap air mata. Brownies sudah matang.
Brownies nya udah matang ya Maa, wah akhirnyaa..” ia benar-benar tak sabaran.
Hmm. Kenangan itu. Terakhir kalinya ia memakan brownies kukus bersama ibunya. Tawa dan canda pun seolah hilang begitu saja. Ah, aku rindu dengan brownies buatan Ibu, katanya dalam hati. Sekarang posisi tidurnya berubah. Ia menitikkan air mata.
****
Pagi menyapa, ayam jago bersahut-sahutan membangunkan manusia, mengeluarkan suara emasnya kepada alam. Setetes embun baru saja jatuh, setelah dirinya tak kuat lagi berada di ujung daun. Udara dingin. Aroma tanah yang khas masih tersisa. Genangan air dimana-mana.
Sekar masih meringkuk dalam selimut. Ia demam. Alarm nya berdering nyaring.
Dengan sekuat tenaga, ia memaksakan diri untuk membuka mata. Berjalan menuju kamar mandi, dan mengambil air wudhu. Matahari memang telah menyingsingkan lengannya, namun semangatnya untuk tetap melaksanakan kewajibannya, masih semangat 45.
Lima belas menit berlalu, sekarang ia masih mengumpulkan tenaga untuk pergi ke rumah mantan suaminya kembali. Menemui anaknya. Sedikit berbeda dari kemarin-kemarin, kali ini ia akan membawakan makanan kesukaannya. Brownies kukus. Untung saja, bahan-bahan untuk membuat brownies masih ada. Ia tersenyum. Segera membuat.
****
Kompleks perumahan elit itu memang selalu sepi. Semua penghuni melakukan aktivitasnya di luar rumah. Begitu pula rumah yang Sekar tuju saat ini. Selalu sepi. Mungkin Sam dan istrinya sudah berangkat kerja, batinnya. Ia pun memencet bel. Berharap pembantu rumah ini segera membuka pintu dan mengizinkannya menemui Tiara.
Pintu di buka, dugaannya salah. Yang menyambut dirinya bukanlah pembantu atau bahkan anaknya, tetapi istri Sam. Dengan mata yang masih setengah terpejam, mata seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima itu langsung melotot begitu melihat tamu yang ada di hadapannya sekarang ialah Sekar.
“Heh, ngapain kamu kesini? Mau cari gara-gara lagi, hah?”
“Ang, aku ingin bertemu anakku..” Sekar memohon sambil memegang tangan istri mantan suaminya. Sesekali syal yang ia kenakan melorot. Tas yang berisi brownies masih ia tenteng. Wajahnya sangat terlihat pucat.
“Sudahlah, berapa kali kami harus bilang padamu. Jangan temui Tiara lagi!” tangannya cepat-cepat melepaskan genggaman ‘hangat’ itu. Sekar sampai terjatuh. Semakin lemas.
Merasa mendengar ribut-ribut, Tiara menjalankan kursi rodanya. Menuju ke sumber suara. Kebetulan, Sam memang tidak ada di rumah. Ia ada meeting dadakan. Kali ini Sekar lumayan beruntung tidak bertemu dengan Sam. Sebab, jika ia sudah bertemu Sam, tentulah hati dan fisiknya akan semakin sakit karena di sia-sia. Entah itu di dorong sampai terjatuh dan berdarah, atau dipukul karena ia tetap bersikukuh ingin menemui anaknya. Malang nian nasibnya.
Ia masih tersungkur dan di ‘ceramahi’ Anggi–istri Sam. Air matanya berderai. Aroma brownies kukus sudah tidak lagi tercium. Tiara mendekat.
“Mama..” ia bersuara takut-takut.
“Tiara! Ngapain kamu keluar..ini urusan orang dewasa. Masuk sana!” ujar Anggi masih dengan nada emosi. Yang disuruh masuk masih di tempat. Sedangkan Sekar langsung terbangun. Bangkit dari jatuh, segera menghampiri anaknya. Tenaganya seperti sudah on. Ia seperti tidak mempunyai penyakit.
“Jderr!!” sayang seribu sayang, buru-buru Anggi menutup pintu dengan keras. Lagi-lagi Sekar gagal bertemu anaknya.
“Anggii..aku mohon, izinkan aku kali ini sajaa.” kembali, ia terduduk lemas. “Aku hanya ingin memberikan brownies ini pada Tiaraa..” sekuat tenaga ia bersuara kencang-kencang. Berharap hati Anggi luluh sejenak.
Tiara masih mendengar suara ibunya, melihat Sekar dari jendela kamar lantai dua. Sungguh, ia sekarang menyesal telah menyia-nyiakan ibu kandungnya selama ini. Ia ingin minta maaf. Sungguh. Satu persatu air matanya pun jatuh. Tidak lama kemudian, tubuh ibunya perlahan-lahan meninggalkan rumah elit itu. Meninggalkan brownies kukus di depan pintu. Bergegas, ia pun turun diam-diam, untuk mengambil makanan kesukaannya.
****
Keesokan harinya lagi, Sekar tetap akan mengunjungi rumah Sam. Kali ini ia tetap akan membawakan brownies. Ditambah CD yang berisi video. Dan masih seperti kemarin-kemarin, ia hanya naik angkot untuk sampai disana. Tubuhnya semakin lemas, demamnya belum sembuh. Entahlah, penyakit HIV nya juga seperti tambah parah. Masih menggunakan syal dan baju hangat beberapa lapis.
Baru akan menyebrang jalan yang super ramai, tanpa melihat kanan-kiri, ia tertatih-tatih. Namun, rupanya di jarak yang tidak jauh, melaju mobil berkecepatan tinggi. Tidak bisa terkendali. Dan Allah pun langsung berkata lain. Sekar tertabrak. Mobil Avanza hitam yang menabrak langsung berlumuran darah. Tas yang berisi brownies dan CD itu tetap ada dalam genggamannya. Orang-orang yang melihat, berhamburan segera menolong.
“P-a-k..” patah-patah ia bersuara. “T-o-l-o-n-g,” napasnya tersengal, “Antarkan tas ini ke..” ia masih berusaha bersuara, “Pe-ru-mah-an Ken-cana..Per-mai..no-mor..seratus..B,” malaikat pencabut nyawa bertugas. Sekar telah meninggal.
Bapak-bapak yang dipesani tadi, sekaligus yang menabrak, langsung mengambil tas Sekar. Sementara warga yang lain berbondong-bondong membawa jenazah Sekar yang berlumuran darah ke Rumah Sakit.
****
Rumah nomor 100B itu sepi. Seperti biasanya. Namun, kali ini hanya ada Tiara dan pembantunya. Bapak-bapak tadi telah melaksanakan tugasnya. Tas Sekar sudah ada di tangan Mbok Dedeh.
“Non, ada titipan nih..Mbok juga nggak tau ini isinya apa,” ujar Mbok Dedeh dan langsung menyerahkan tas itu ke pangkuan Tiara.
Mata anak itu langsung membulat senang. Sangat mengenal tas itu. Pasti dari Mama, batinnya. Cepat-cepat ia buka isi tas. Tangannya merogoh, mengeluarkan brownies dan apa? CD? Hatinya sangat bertanya-tanya. Penasaran. Tiara akhirnya juga menyalakan laptop, menyetel CD itu. Ekspresinya berubah drastis. Dari ceria menjadi berlinangan air mata. Itu adalah video yang dibuat ibunya sendiri, yang berisi kesedihan, keceriaan ‘terpaksa’, kesusahan yang tergambar dibuat menyenangkan, selama ia sendiri. Semenjak Tiara tinggal bersama Sam dan istri barunya.
Ia kembali menangis, di akhir video tersebut, Sekar berpesan.
“Tiara sayang, tetaplah menjadi anak yang kuat, yang tabah, dan selalu ceria..jadilah anak kebanggaan orang tua, ah ya..jangan lupa browniesnya di makan sampai habis ya, Nak. Ini spesial Mama buatin untuk kamu. Dan Mama Sekar hanya minta kamu untuk doain Mama supaya bisa tersenyum lagi, tenang, dan bahagia. I miss you and, love you,” itulah pesan terakhirnya untuk Tiara.
Tangisannya semakin meluber. Tiba-tiba telepon berdering, cepat-cepat ia angkat.
“Halo, apa benar ini rumah bapak Sam?”
“Iya benar, ini saya anaknya. Ada apa Pak?”
“Kami dari pihak Rumah Sakit, mengabarkan bahwa ibu Sekar Aprilia telah meninggal dunia dan sudah selesai di autopsi.
Hening. Tiara terdiam seketika. Menjatuhkan telepon. Shock.
****
SELESAI

Senin, 19 Mei 2014

Indonesia Harus Bangun Karakter Bangsa

Pelepasan Duta Kontingen UIN Suka PWN PTAI XII Bengkulu
Jumat, 9 Mei 2014 16:03:17 WIB
Dilihat : 808 kali
UIN Sunan Kalijaga adakan upacara pelaksanaan Upacara Pelepasan Duta Kontingen Perkemahan Wirakarya Nasional PTAI XII se-Indonesia di Bengkulu. Upacara dilaksanakan Hari Kamis, 8 April 2014 di Gedung PAU Lantai I UIN Suka. Pada kesempatan tersebut dilepaslah delapan anggota Racana Sunan Kalijaga yang bernama Jakra Hadepa Riyadi (IKS), Rasyid Shaleh Abdi (PAI), Muhammad Danuwiyoto (PAI), M.Mahmudin Hasan (AF), Ahmad Zaenurrohman (PAI), Bagus Akbar S(PAI), Giffari Okto B (FIS), M. Ridwan ( PGMI), dan delapan anggota Racana Nyi Ageng Serang yang berama Eni Juwariyah (SKI), Ulvi Mualivah (PAI), Aen Istianah Afiati (IKOM), Khoirun Ni’mah (KPI), Iin Fajarwati (SOS), Indah Rahmatika Sari (P. KIM), Sri Windari (SKI), dan Anisa Nurdila (SOS).
Para duta kontingen PW Bengkulu ini dilepas oleh Wakil Rektor III Bidang Kelembagaan dan Kerjasama, Dr. H. Maksudin, M. Ag sekaligus bertindak selaku Pembina upacara pelepasan Duta kontingen Perkemahan Wirakarya. Maksudin berpesan kepada para Duta agar senantiasa mengikuti kegiatan dengan sebaik-baiknya dan mengamalkan lima sifat dari Sunan Kalijaga yaitu selalu sabar, ikhlas, amanah, qona’ah, dan senantiasa berakhlakulkarimah.
Upacara pelepasan ini juga dihadiri oleh kedua Pembina Gugus Depan 03-071 dan 03-072, Khoirul Anwar M.A selaku pembina racana putra dan Dra. Rahmi Tri Mei Maharani, MM. selaku pembina racana putri serta anggota dari racana Sunan Kalijaga dan Racana Nyi Ageng Serang.
Pembina racana putrid, RTM Maharani, berharap semoga para Duta seluruh peserta dapat terus semangat dalam berkarya, mempererat tali silaturrahmi, mampu menjaga nama baik almamater tercinta pada kancah nasional, dan memberi perubahan ke arah yang lebih baik serta progress bagi Kepramukaan di UIN Sunan Kalijaga dan seluruh Indonesia. (Doni Tri Wijayanto-Humas UIN Suka).

Rabu, 30 April 2014

Kata hati



Strawberry Coffee

Strawberry Coffee..
Manis juga sedikit pahit.
Strawberry Coffee..
Berwarna pink, berpadu dengan cokelat muda.
Strawberry Coffee..
Menandakan sebuah perbedaan yang bisa menjadi satu.
Mungkin memang tidak ‘nyambung’.
Namun itulah yang terjadi.
Dan aku percaya bahwa mereka bisa bersatu.
Untuk menciptakan warna, rasa, dan ‘kehidupan’ baru.
Karena Strawberry Coffee,
Bagaikan aku dan kamu :)

Jogja, 01 Mei 2014

Selasa, 29 April 2014

sajak hati

Sajak Rindu #1
Menemukanmu, adalah
Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Bertemu denganmu, adalah
Seperti jarum jam yang tak pernah berhenti berjalan,
Namun tetap tak ditemukan juga ujungnya.
Tapi, menitipkan namamu dalam doa
Adalah satu-satunya cara termudah,
Untuk obat kerinduan ini..
YK, 23032014

Sajak Rindu #2
Bagaimana aku bisa berhenti berhitung,
Jika hari terus saja bergulir.
Bagaimana aku bisa mengobati rindu ini,
Jika aku saja belum menemukan obatnya.
Harus bagaimana lagi aku akan mengatakan ini padanya,
Jika yang bisa kulakukan hanyalah menuliskan kehampaan ini dalam secarik kertas.
YK, 23032014


Sajak Hati #1
Menjadi bintang di langit memang tidaklah mudah
Harus berkelap-kelip,
Memancarkan sinar,
Dan harus datang di setiap malam.
Namun, tidak denganmu.
Kau tak perlu jadi bintang di langit setiap malam.
Menunjukkan sinar terbaikmu, kepada jagat raya.
Tidak. Tidak perlu.
Kau cukup singgah di hatiku, dan bersinarlah sesuka hatimu.
Kapan pun yang kau mau.
Entah itu sinar ‘kelebihanmu’, ataukah sinar ‘kekuranganmu’
Aku tak peduli, sungguh.
Aku hanya peduli, dengan pancaran sinar
Yang keluar dari dalam dirimu.
YK, 23032014


Sajak Hati #2
Bukan cinta namanya jika kita tidak merasakannya,
Bukan rindu namanya jika kita tidak merasa rindu,
Bukan pula sahabat namanya jika ia tak ada disamping kita.
Di samping kala kesedihan melanda
Disisi kala kegembiraan menyelimuti.
Sahabat adalah kehidupan..
YK, 06122013

Sajak Hati #3
Entahlah, itu ditujukan untuk siapa..
Entahlah, bagaimana pula aku harus menyimpulkan dan bersikap..
Entahlah, dan entahlah,
Dada ini tiba-tiba terasa sesak
Dipenuhi tanda tanya besar
Yang entah kapan akan terjawab
YK, 09102013

Jangan..
Mataku belum bisa berayun-ayun seperti biasa,
Hidungku mulai kembang kempis mengatur napas.
Bibirku kering..
Lidahku kelu..
Kaki ini terpasung angin.
Telingaku mendengar rintihan-rintihan itu.
Dan tanganku, terpaku tak bisa berbuat apa-apa
Hanya hati yang masih bisa berucap.
Ya Allah..
Jangan biarkan matanya jatuh,
Jatuh di pangkuannya.
Jangan biarkan suaranya keluar,
Keluar dengan rintihan.
Jangan Ya Rabb..

YK, 26032014

Senin, 28 April 2014

Dosen Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Raih Doktor Psikologi di UGM


Selasa, 15 April 2014 07:56:47 WIB
Dilihat : 816 kali

Senin, 14 April 2014 dihadapan Tim Penguji Doktor Fakultas Psikologi UGM, yang terdiri dari Prof. Dr. Asmadi Alsa, Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D. Yapsir Gandi Wirawan, MA., Ph.D. Prof. Dr. Saifudin Azwar, MA. Prof. Amatya Kumara, Prof. Dr. Sartini Nuryoto, Sumarno, MA., Ph.D. Eva Latipah (Dosen Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga) berhasil mempertahankan hasil penelitian disertasinya yang berjudul “ Pengaruh Strategi Pembelajaran Eksperensial Terhadap BBRD (Belajar Berdasar Regulasi Diri Mahasiswa)”. Dengan demikian Eva Latipah dinyatakan lulus Program Doktor Psikologi Fakultas Psikologi, UGM, dengan predikat “Memuaskan”
Dihadapan Tim Penguji Eva Latipah mengatakan bahwa, Ada hubungan Positif yang sangat signifikan antara BBRD (Belajar Berdasarkan Regulasi Diri) dengan prestasi belajar matematika. Korelasi positif yang sangat signifikan ini menunjukkan adanya korelasi yang searah, dimana peningkatan BBRD secara proporsional akan diikuti oleh peningkatan prestasi belajar matematika. Sebaliknya, Penurunan BBRD secara proporsional akan diikuti oleh penurunan prestasi belajar matematika. BBRD mampu meningkatkan prestasi belajar matematika karena mahasiswa telah belajar matematika dengan cara melibatkan motivasi, metakognisi, dan perilakunya dalam pembelajaran. (Fauzi Barkah – Humas UIN Sunan Kalijaga).

sumber :  http://uin-suka.ac.id

Selasa, 22 April 2014

tak bisa itu, ini pun jadi

mungkin ini memang jalanku disini. jalan yang sebelumnya pernah aku bayangkan. dulu ketika MA, aku pernah berpikiran, ah betapa aku ini ingin keluar dari Jogja. ingin belajar hidup mandiri jauh dari orang tua, ingin merasakan betapa kerasnya hidup, dan bayangan-bayangan lain. entah kenapa pula, aku juga berpikiran bahwa aku ingin pergi ke Malang! tepatnya UIN Maulana Malik Ibrahim. kuliah disana meskipun tak punya saudara sama sekali.
beberapa tahun kemudian, masih duduk di bangku MA, aku mengutarakan isi hatiku kepada orang tua. apa yang mereka katakan? tidak. aku tidak boleh kesana! begitu kata ayahku.
singkat cerita, akhirnya aku mengobati hati dengan mencari UIN yang lain alias move on. sebenarnya berat juga, tapi apalah dayaku. aku ini hanya dibiayai, jadi ya harus 'ngikut' saja sama orang tua.
yaa, dan pada akhirnya dan ujung-ujungnya, aku tetap ada di kotaku ini, dan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
aku belajar, mandiri itu tidak diukur dengan jauh-dekatnya kita tinggal dalam menuntut ilmu, tapi mandiri adalah kemampuan kita dalam memanage sesuatu yang ada. kita bisa meng-handle, dan berhasil menyelesaikan masalah yang ada, itulah artinya sebuah kemandirian. semua serba sendiri. :)
sekarang pun aku bersyukur dan berusaha menikmati apa yang kemarin, besok, dan nanti ku jalani.
perjalanan kesuksesan itu penuh liku.....

Senin, 21 April 2014

cerpen lamaku :)

Seminar Pertamaku

Aku membuka lemari. Mencari-cari baju terbaikku. Dimana pula baju biru favoritku itu. Mengacak seluruh isi lemari. Kembali melirik jam. Aku semakin buru-buru, tidak ingin datang terlambat di acara pentingku. Acara yang sudah lama ku inginkan. Ya, aku tidak boleh datang terlambat. Batinku lagi.
Lima menit lagi, jam menunjukkan pukul 10.00. Baju biruku tetap tidak ketemu. Oh tidaak, aku lupa. Ternyata baju favoritku itu ada di cucian. Belum ku cuci pula. Aku menepuk jidat. Segera mencari baju lain. Aduuh, baju yang sudah kusetrika hanya baju merah. Bagaimana mungkin aku akan memakai baju kebesaran hadiah ibu itu? Huft. Benar-benar menyebalkan. Sekarang aku mencari rok. Rok hitam? Oh ya, masih ku gantung di pintu. Dengan buru-buru sekali, aku mengambilnya. Ya ampun, rok hitam ini sangat kotor. Terakhir aku pakai, ketika acara outbond tiga hari yang lalu. Sangat terpaksa, kupakai saja rok itu. Sebab, aku tak mempunyai rok bersih, rapi, dan harum selain rok tadi.
Gawat. Sekarang jam 10.20. Aku hanya punya waktu sepuluh menit untuk sampai di lokasi seminar. Waktu yang singkat. Padahal, jarak kos-kosanku ke lokasi memakan waktu yang lumayan lama. Aduuh, aku payah. Tidak bisa mengira-ngira waktu dengan baik. Gerutuku. Jika saja aku tak bangun kesiangan, pasti tidak akan seperti ini.
Aku bercermin. Menatap diriku lamat-lamat. Merasa aneh dengan ‘kostum’ yang aku kenakan. Rok hitam, dengan atasan merah menyala motif bunga yang kedodoran, serta jilbab merah muda yang menempel di kepalaku. Melihat diriku saja, aku malu. Bagaimana jika bertemu banyak orang nanti? Aku menghela nafas. Mencoba menenangkan diri, berpikir positif dan husnudzan saja.
HP ku berdering. Pasti dari panitia seminar. Dengan sigap, langsung ku angkat.
Assalamualaikum,” sapaku.
Waalaikumussalam. Bagaimana Mbak? Sudah sampai mana? Perlu dijemput?” tanyanya. “Para peserta seminar sudah banyak yang menanti kedatangan Mbak Azki.”
“Maaf Dik, aku baru mau berangkat. Tolong tunggu sebentar, mungkin perjalanannya sekitar sepuluh menit.” kataku menenangkan.
“Baik Mbak, kami tunggu. Wassalamualaikum,”
Waalaikumussalam.”
“Klik.” panggilan sudah di akhiri.
Aku segera keluar kamar, mengunci pintu, mengambil motor. Aku benar-benar terlambat. Perlahan, aku mulai meninggalkan kos tepat pukul 10.30.
Di tengah perjalanan, aku terjebak macet. Alamak, aku paling tak sabar jika harus menunggu di jalan berjam-jam. Akhirnya, aku putuskan untuk berjalan kaki. Motor Honda Beat ku, dititipkan di tempat penitipan motor. Untung saja, ada tempat itu. Oke, tak apalah aku jalan kaki. Jaraknya juga sudah dekat.
Setibanya di lokasi seminar, aku benar-benar gerah. Berjalan buru-buru dengan jarak jauh, di tambah sinar matahari yang sangat menyengat, langsung membuatku berkeringat. Tak sempat meluruskan kaki, aku langsung disambut oleh panitia seminar. Ia mengenakan almamater dan rok biru SMP. Aku mengisi acara di almamaterku sendiri. SMP Negeri Tunas Melati. Sekarang aku sudah kelas XII, di SMA Negeri I Malang. Tiba-tiba, tanpa kusadari beberapa wartawan datang menghampiriku.
“Siang Mbak, bisa minta keterangannya sebentar?” tanya seorang perempuan berambut pendek, dengan tangan membawa microphone. Seperti disengat listrik, aku bingung harus melakukan apa. Beruntung, panitia seminar buru-buru mengajakku ke aula. Meminta wawancaranya di tunda.
“Mari Mbak Azki, kita ke aula.” ajak remaja itu yang bernama Resti. Ia Sie Humas.
Anak tangga ku lewati. Jantungku berdebar tak beraturan. Ini kali pertama aku diminta menjadi pembicara untuk acara seperti ini. Selain itu, aku juga diminta ‘membedah’ novel perdanaku yang baru bulan lalu dicetak. Ku atur nafas, berusaha se-rileks mungkin. Aku pasti bisa. Yakinku di dalam hati.
Sekarang, kakiku sudah memasuki aula. Kulihat peserta yang hadir. Wow, penuh. Semua mata tertuju padaku. Ah, aku malu. Apalagi, dengan ‘kostum’ aneh ini. Tidak, aku tidak boleh suudzan. Mungkin mereka hanya penasaran, yang mana pembicara seminar ini. Aku mencoba menenangkan diri, dengan mengamati ruangan. Aula ini sudah agak berubah. Tepatnya lebih bagus dan lebih nyaman.
“Baiklah, narasumber kita telah hadir. Mari kita beri aplause..” ujar salah satu MC dengan intonasi yang tepat. Tepuk tangan sangat riuh, aku sedikit nervous. Menghela nafas.
Panitia mempersilakanku duduk. Tidak lama, Sie Konsumsi datang membawa snack dan air mineral. Alhamdulillah, aku lega. Akhirnya bisa minum juga. Aku sangat haus.
“Terimakasih,” kataku sambil tersenyum. Dengan diam-diam, aku mencuri waktu untuk minum sebelum acara resmi dimulai.
Baru minum seperempat, ternyata MC sudah mempersilakan berbicara di acara inti.  
“Uhuk,” aku tersedak. Sakit sekali rasanya. Para MC melihatku, apalagi peserta seminar–yang ingin acaranya segera dimulai.
Moderator yang ada di sebelahku bertanya, apakah aku baik-baik saja. Aku tak bisa menjawab. Aduuh, bagaimana bisa? Suaraku tiba-tiba saja seperti menghilang bagaikan angin lalu. Ya Allah, aku mohon. Jangan biarkan semua yang ada disini menungguku. Kata hatiku yang terus memohon.
“Bagaimana Mbak? Sudah mendingan?” tanya moderator lagi. Sama saja, aku masih belum bisa bersuara dengan baik. Ada apa ini? Kenapa bisa begini? Tanganku mengisyaratkan untuk menunggu sebentar. Mereka mengangguk.
Ya Allah, bagaimana ini. Tolong titipkan suara lagi kepadaku, agar aku tidak mengecewakan semuanya. Aku mohon Ya Allah. Keringatku menetes dari pelipis sebesar butir jagung. Aku semakin gelisah.
Lima menit berlalu. Karena aku terus memohon, ada keajaiban. Dengan Kuasa Nya, suaraku kembali normal. Alhamdulillah. Mataku berkaca-kaca, segera meminta maaf kepada semua.
Acara inti tiba. Aku berdiri, sedikit mendekat dengan peserta seminar yang duduk lesehan. Moderator mulai menjalankan tugasnya, aku juga mulai berbicara. Rasa nervous menghampiri terus, yang membuat kata-kataku menjadi tak tertata seperti latihan di kamar kemarin. Alamak, kacau sudah acara ini.
Sangat terlihat, semua yang menyaksikanku tidak paham dengan apa yang ku maksud. Sangat fatal bukan? Padahal itu baru di bagian awal materi. Dan mereka sepertinya juga sudah kecewa, lalu mereka ngobrol satu sama lain. Ya Allah, bantu aku. Aku semakin gugup. Sementara suasana semakin gaduh.
MC mendekat, sedikit berbisik. Aku memutuskan ingin mengundurkan diri saja. Karena, hari ini menurutku benar-benar a bad day. Tidak biasanya, kepercayaan diriku sampai seperti ini. Tidak lama kemudian, panitia berkata lain. Aku tidak boleh mundur lantaran hanya masalah seperti ini. Oke, aku akan coba lagi semampuku. Bismillah. Aku menenangkan diri. Sekali lagi, aku tak ingin mengecewakan banyak orang. Dengan kemantapan hati, aku kembali ke depan. Menjelaskan materi berikutnya.
Allah sayang padaku. Ketika aku kembali maju, seperti tidak ada halangan apa-apa, dengan mudah aku menjelaskan semua. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Peserta tidak jadi bingung, mereka menjelaskan dengan antusias. Aku tersenyum senang.
Waktu hampir Dhuhur. Itu artinya, sesi pertama acara ini akan di tunda untuk istirahat dan makan siang. Baru mau mengatakan dua kalimat lagi, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Seperti ada yang menempel di pundak kananku. Aku ragu-ragu. Akan menengok ada apa di pundak sebelah kanan ini. Belum sempat melihat, salah seorang panitia meneriakiku.
“Mbak Azkiii..itu pundaknya ada sesuatuu..” teriaknya sangat kencang. Otomatis, aku langsung panik. Berteriak.
“Ada sesuatu apa Dik? Tolong jangan bercanda.” ujarku keras, sambil jongkok dan menutup muka. Aku benar-benar ketakutan.
“Anu Mbak, aku juga takut. Bentar ya Mbak, tak panggilin anak cowok dulu.” kata MC yang bernama Sei. Sepertinya ia langsung lari.
“Seii..di pundakku ada apa?” ucapku semakin ketakutan. Sekaligus menambah penasaran.
“Mbak tenang dulu, diem aja ya. Kita ambilin kayu.” ujar panitia yang lain. Mereka banyak yang menjaga jarak denganku. Sebenarnya ada apa di pundakku? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Ada rasa khawatir juga.
Entah bagaimana suasana siang itu, aku masih tak peduli. Mungkin semua orang yang disitu melihatku dengan tanda tanya. Entahlah.

*****

Pukul 04.30. Alarmku berbunyi.
“Bukkk!!” badanku terjatuh dari dipan. Sakit.
Aku membuka mata, mengerjap-ngerjap. Menguap. Mulai duduk, mematikan alarm di HP. Penglihatanku menatap seluruh kamar, dan juga pakaian yang aku kenakan. Apakah barusan aku mimpi buruk? Aku mengingat. Ah ya, benar. Aku mimpi buruk tentang seminar pertamaku. Mataku langsung terbuka lebar. Mengingat mimpi terakhir yang sangat membuatku dag-dig-dug, malu, sampai akhirnya terbangun. Aku menjerit sekuat tenaga karena yang menempel di pundakku saat itu ternyata ulat bulu. Hii. Hal itu benar-benar kejadian yang sangat membuatku malu di dalam mimpi tadi. Sebab, jika aku sudah dihadapkan dengan makhluk menggelikan itu, mau tidak mau, yang keluar pertama dari mulutku yaitu menjerit. Dan ulat bulu adalah salah satu phobiaku dari kecil. Ya ampun, aku sangat tidak menyangka, akan mimpi seperti itu. Untung saja, hanya mimpi. Aku benar-benar menghela nafas panjang. Lega.
Aku lupa. Tidak membaca doa sebelum tidur. Ya Allah, ampuni aku. Kataku dalam hati. Mungkin, mimpi tadi terbawa suasana hatiku semalam. Suasana hati yang sangat bingung menghadapi acara besar–seperti dalam mimpiku barusan–yang akan diadakan besok Minggu. Yaitu seminar. Semoga mimpi tadi tidak kenyataan. Kataku sambil meng-amini dalam hati. Aku mulai beranjak dari dipan. Melipat selimut, menata bantal dan guling, serta pergi ke kamar mandi untuk shalat Subuh. Adzan baru saja berkumandang.
*****