Matanya
berkaca-kaca. Sambil menatap langit yang berhiaskan bintang dan bulan sabit, ia
memaksakan diri untuk tersenyum. Merekahkan senyum kepada kerlap-kerlip cahaya
di atas sana. Ia hanya berusaha husnudzhan kepada Sang Pencipta, bahwa
semua akan bisa terlewati. Ia percaya, tak ada kebahagiaan dan kesedihan yang
abadi di dunia ini. Semua hanya sementara.
Sebutir
air mata bening pun meluncur dari pipinya. Mulai terisak. Perlahan, ia
tertunduk menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan. Menangis. Tidak ada teman,
kerabat, tetangga, ataupun keluarga di sampingnya saat ini. Dirinya benar-benar
sendiri, seperti berdiri di atas bebatuan karang di tengah lautan seorang diri.
Hidupnya sedang dipenuhi berbagai masalah, secara fisik maupun batin. Butuh
perjuangan berat untuk menempati surga-Nya, katanya dua hari yang lalu.
Seolah
ikut merasakan masalah, alam pun juga menangis. Hujan rintik dan perlahan-lahan
deras baru saja turun. Wanita itu segera beranjak dari ayunan, masuk ke dalam
rumah cepat-cepat. Kakinya memasuki ruang tamu. Tetesan air hujan yang sudah
lekat di tubuhnya pun mulai membasahi lantai. Tiba-tiba wajahnya ia tempelkan
ke jendela, menatap hujan yang turun semakin deras.
Pikirannya
terbayang sosok anak perempuan duduk di kursi roda, sengaja hujan-hujanan
bersama seorang ibu dan ayahnya. Mereka tertawa, bercanda, dan saling
menyipratkan air satu sama lain. Terlihat bahagia sekali. Ah, kenangan itu. Dan
bulir air dari bola mata coklatnya kembali terjatuh.
Tidak
ingin berlarut dalam kenangan, ia mengusap pipinya yang belum juga kering, lalu
membalikkan badan. Segera ke kamar mandi mengganti pakaian, dan menghangatkan
diri menyeduh kopi di ruang tamu. Sendiri.
****
Waktu
terus berjalan. Sekarang pukul 00.30 dini hari. Selarut itu, matanya belum
terpejam, dipenuhi berbagai kata bagaimana, apa, mengapa, dan pikiran negatif
lainnya. Tangannya meraih handphone, mencari menu kontak dan mengetikkan
salah satu nama yang pernah ada di hidupnya. Menekan tombol call. Satu,
dua, tiga detik, mulai tersambung. Agak lama, akhirnya si pemilik telepon pun
mengangkat. Suara berat menyapa.
“Ada
apa malam-malam begini telepon, hah? Tiara sudah tidur. Jangan ganggu dia!”
“Aku
tahu Tiara sudah tidur, aku hanya ingin kau memenuhi permintaanku kali ini saja
Sam,”
“Tak
usah kau sebutkan aku juga sudah tahu apa permintaanmu. Hei, kau tahu sendiri
bukan? Tiara itu tidak ingin berbicara bahkan bertemu denganmu barangkali satu
menit saja, sudahlah Sekar..” terdengar suara helaan napas, ia melanjutkan.
“Kau itu tak pantas dekat-dekat dengan anakku! Dirimu tidak lebih dari seorang
wanita murahan! Jadi, itu alasan yang tepat agar kau menjauhi anakku.” kata-kata
pria itu sangat menusuk hati Sekar. Sekar langsung menangis.
“Ini
salah paham Sam, kau tak mengerti kejadian sebenarnya. Tak seharusnya kau
menghinaku dengan kata-kata menyakitkan itu. Aku sudah tidak menyentuh dunia
hiburan malam sedikitpun, aku di jebak Sam,” ia kembali terisak. Benar-benar
terisak sampai suaranya parau.
“Halah,
kau ini memang pemain sandiwara ulung Sekar, masa lalumu itu bisa dijadikan
pegangan, kalau kau bisa saja sewaktu-waktu membalikkan fakta yang ada. Sekali
murahan tetap saja murahan! Tiara sekarang sudah tidak membutuhkanmu, ia sudah
punya ibu baru yang lebih baik daripada kau. Ia sangat bahagia, tidak ada lagi
air mata yang mengalir di pipinya. Jadi, jangan coba-coba ganggu dia! Ingat
itu!”
“Tak
masalah jika selamanya Tiara akan tinggal bersama kau dan istri barumu. Tapi
Sam, statusku masih ibu kandungnya, ibu biologis dari Tiara. Tidakkah kau
merasakan betapa aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku karena penyakit ini
bersama anakku Sam..aku mohon, bujuklah dia agar mau menemui ibunya dan pulang
ke rumahku, hanya untuk beberapa hari saja..” nada bicaranya kali ini sangat
memohon. Namun sayang, Sam tetap bersikukuh.
“Oh,
jelas tidak akan! Aku tidak akan mau merasakan apa yang kau rasakan. Itu karma
bagimu! Dan justru itu, aku sangat tidak mau Tiara bersamamu lalu tertular
penyakit itu. Enak saja!” helaan napasnya kembali terdengar. Sedikit menguap. Kemudian
segera memberhentikan pembicaraan. “Stop! Berhenti menangis dan memohon
kepadaku! Sudah..sudah! aku mengantuk, kau sangat mengganggu tidurku.”
Sambungan
telepon terputus. Pertengkaran kecil tadi menghabiskan waktu setengah jam.
Energi wanita itu terkuras. Ia kembali terbatuk hebat. Kepalanya pusing,
rasanya ingin muntah, badannya seperti demam. Semenjak ia terdeteksi mengidap
penyakit HIV, kondisi kesehatannya semakin menurun drastis. Belum lagi kondisi
batinnya yang sangat tidak karuan. Ia benar-benar down. Sekarang, ia
hanya memaksakan diri untuk segera memejamkan mata. Tetap optimis, semua akan
baik-baik saja.
****
Masih
pada waktu dini hari yang sama, di sisi lain, rumah berlantai dua yang terkesan
megah itu sudah ada kehidupan. Di kamarnya yang luas serta bercat biru laut
dipenuhi boneka teddy bear, ia terjaga. Berkedip-kedip menatap langit-langit
kamar sambil memeluk boneka sangat erat. Pikirannya dikelilingi banyak hal.
Termasuk tentang ibu kandungnya. Ya, dialah Tiara.
Entahlah,
ia sudah terjaga dalam diam sejak lama atau baru sebentar, yang jelas tiba-tiba
hatinya merasakan gejolak penolakan yang telah ia lakukan selama ini kepada
ibunya. Ia merasa, dirinya bukanlah Tiara yang dulu. Yang selalu tersenyum saat
ibunya pulang, yang selalu berkata lemah lembut, yang selalu bercerita apa yang
ia mimpikan semalam, dan semua perilaku baiknya ia tunjukkan pada orang yang
melahirkannya itu. Hatinya belakangan ini tidak tenang, diliputi segala
kegelisahan tak berujung setiap kali ia melakukan hal yang biasanya tidak pernah
ia lakukan. Selalu bertanya pada diri sendiri, mengapa ia sampai bersikap
seperti itu kepada Ibunya.
Pikirannya
memang masih labil. Wajar, ia baru berusia 14 tahun. Salah satu faktor yang
juga memengaruhi emosinya adalah kondisi fisiknya yang hanya bisa beraktivitas
di kursi roda. Kadang-kadang emosinya tak terkendali. Dahulu, ia sering memaki
diri sendiri kenapa ia tidak bisa berjalan, tidak punya kaki, dan makian-makian
yang lain. Namun, dulu Sekar selalu berhasil membesarkan hati anaknya. Sekarang,
dan untuk kali ini, makian itu selalu ditujukan pada ibunya di telepon maupun
saat bertatap muka langsung. Semua itu tidak lain adalah karena
pengaruh-pengaruh dari ayah dan ibu tirinya untuk membenci Sekar karena ia
dianggap membawa penyakit menular, bisa membahayakan dirinya, dan bukan sosok
ibu yang baik. Karena itulah, Tiara yang sekarang berbeda dari Tiara yang dulu.
Tiara
kembali memiringkan tubuhnya, mengenang masa-masa menyenangkan bersama ibunya.
Sebelum ia pindah ke rumah ayahnya.
“Maa,
ayo buruaan..Tiara udah nggak sabar nih, pengen cepet-cepet bisa makan brownies,”
Tiara berteriak dari dapur, memanggil Mamanya yang masih di dalam kamar, di
depan laptop.
“Iyaa
sayaang, bentaar..Mama beresin dulu,” jawabnya yang juga berteriak. Tangannya
cekatan membereskan charger, laptop, dan beberapa lembaran kertas yang
berserak di kasurnya. Segera menuju dapur.
“Aduuh,
Mama lama banget deh. Perut Tiara udah nggak sabar nih Maa,” suara nyaringnya
langsung membuat gema di dapur. Sekar hanya tersenyum, menyambar celemek dan
mengambil bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat karya andalannya, brownies
kukus.
Telur,
gula pasir, terigu, dan vanili sudah siap sedia di meja. Tiara juga telah
mengenakan celemek, tangannya memegang baskom dan mixer. Senyum-senyum.
Ia sudah siap memasak!. Dengan terampil, tangan Sekar–juga Tiara–memasukkan
telur, gula pasir, TBM, dan vanili ke dalam baskom. Tugas anak perempuan itu
adalah, mengocoknya sampai mengembang.
Sementara
itu, Sekar segera mencari terigu, coklat Van Hauten, susu coklat, dan pasa
coklat untuk langkah selanjutnya. Tak ketinggalan, ia pun mengambil loyang
persegi berukuran sedang. Sesekali anaknya menanyakan pada ibunya, apakah
adonan yang ia buat sudah mengembang atau belum, dan jawaban Sekar hanya
gelengan, sambil tersenyum. Kebalikan dengan ekspresi anaknya, yang justru agak
kusut karena tangannya sudah pegal memutar-mutarkan mixer.
Di
sela-sela membuat brownies, dengan jahilnya tangan Tiara menempelkan
tangannya yang belepotan gandum, dan mencubit pipi ibunya. Menjadi cemong.
Seakan tidak terima, Sekar pun membalasnya. Alhasil, jadilah ‘permainan’ seru
antara ibu dan anak. Setelah semua tercampur dan tinggal menunggu matang dalam
kukusan, Sekar jongkok, menatap anaknya lamat-lamat dan memegang kedua
lengannya. Erat.
“Sayang..makasih
banyak ya, udah jadi anak yang baik buat Mama,”
“Harusnya
Tiara yang banyak-banyak bilang terima kasih sama Mama, soalnya kalau nggak ada
Mama, Tiara nggak akan jadi seperti ini. Karena Mama, aku jadi lebih bisa
menghadapi kehidupan ini dengan syukur, kuat, sabar dan ceria. Seperti pesan
Mama. Terima kasih Maa..” jawabnya dengan ceria.
Mata
Sekar berkaca-kaca. Merasakan betapa beruntungnya ia memiliki anak seperti
Tiara. Berpelukan erat-erat.
“Udah
ah Ma, jangan pake nangis-nangis..hehe. Kan sekarang bukan halal-bihalal, aku
aja nggak nangis. Masa’ Mama nangis sih, huu cengeng.” Ia sudah melepas
pelukan, tertawa terbahak sedikit meledek.
“Ah
kamu ini Nak, bisa saja.” Ia menanggapi singkat, mengusap air mata. Brownies
sudah matang.
“Brownies
nya udah matang ya Maa, wah akhirnyaa..” ia benar-benar tak sabaran.
Hmm.
Kenangan itu. Terakhir kalinya ia memakan brownies kukus bersama ibunya. Tawa
dan canda pun seolah hilang begitu saja. Ah, aku rindu dengan brownies
buatan Ibu, katanya dalam hati. Sekarang posisi tidurnya berubah. Ia menitikkan
air mata.
****
Pagi
menyapa, ayam jago bersahut-sahutan membangunkan manusia, mengeluarkan suara
emasnya kepada alam. Setetes embun baru saja jatuh, setelah dirinya tak kuat
lagi berada di ujung daun. Udara dingin. Aroma tanah yang khas masih tersisa.
Genangan air dimana-mana.
Sekar
masih meringkuk dalam selimut. Ia demam. Alarm nya berdering nyaring.
Dengan
sekuat tenaga, ia memaksakan diri untuk membuka mata. Berjalan menuju kamar
mandi, dan mengambil air wudhu. Matahari memang telah menyingsingkan lengannya,
namun semangatnya untuk tetap melaksanakan kewajibannya, masih semangat 45.
Lima
belas menit berlalu, sekarang ia masih mengumpulkan tenaga untuk pergi ke rumah
mantan suaminya kembali. Menemui anaknya. Sedikit berbeda dari kemarin-kemarin,
kali ini ia akan membawakan makanan kesukaannya. Brownies kukus. Untung
saja, bahan-bahan untuk membuat brownies masih ada. Ia tersenyum. Segera
membuat.
****
Kompleks
perumahan elit itu memang selalu sepi. Semua penghuni melakukan aktivitasnya di
luar rumah. Begitu pula rumah yang Sekar tuju saat ini. Selalu sepi. Mungkin
Sam dan istrinya sudah berangkat kerja, batinnya. Ia pun memencet bel. Berharap
pembantu rumah ini segera membuka pintu dan mengizinkannya menemui Tiara.
Pintu
di buka, dugaannya salah. Yang menyambut dirinya bukanlah pembantu atau bahkan
anaknya, tetapi istri Sam. Dengan mata yang masih setengah terpejam, mata
seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima itu langsung melotot begitu
melihat tamu yang ada di hadapannya sekarang ialah Sekar.
“Heh,
ngapain kamu kesini? Mau cari gara-gara lagi, hah?”
“Ang,
aku ingin bertemu anakku..” Sekar memohon sambil memegang tangan istri mantan
suaminya. Sesekali syal yang ia kenakan melorot. Tas yang berisi brownies masih
ia tenteng. Wajahnya sangat terlihat pucat.
“Sudahlah,
berapa kali kami harus bilang padamu. Jangan temui Tiara lagi!” tangannya cepat-cepat
melepaskan genggaman ‘hangat’ itu. Sekar sampai terjatuh. Semakin lemas.
Merasa
mendengar ribut-ribut, Tiara menjalankan kursi rodanya. Menuju ke sumber suara.
Kebetulan, Sam memang tidak ada di rumah. Ia ada meeting dadakan. Kali
ini Sekar lumayan beruntung tidak bertemu dengan Sam. Sebab, jika ia sudah
bertemu Sam, tentulah hati dan fisiknya akan semakin sakit karena di sia-sia.
Entah itu di dorong sampai terjatuh dan berdarah, atau dipukul karena ia tetap
bersikukuh ingin menemui anaknya. Malang nian nasibnya.
Ia
masih tersungkur dan di ‘ceramahi’ Anggi–istri Sam. Air matanya berderai. Aroma
brownies kukus sudah tidak lagi tercium. Tiara mendekat.
“Mama..”
ia bersuara takut-takut.
“Tiara!
Ngapain kamu keluar..ini urusan orang dewasa. Masuk sana!” ujar Anggi masih
dengan nada emosi. Yang disuruh masuk masih di tempat. Sedangkan Sekar langsung
terbangun. Bangkit dari jatuh, segera menghampiri anaknya. Tenaganya seperti
sudah on. Ia seperti tidak mempunyai penyakit.
“Jderr!!”
sayang seribu sayang, buru-buru Anggi menutup pintu dengan keras. Lagi-lagi
Sekar gagal bertemu anaknya.
“Anggii..aku
mohon, izinkan aku kali ini sajaa.” kembali, ia terduduk lemas. “Aku hanya
ingin memberikan brownies ini pada Tiaraa..” sekuat tenaga ia bersuara
kencang-kencang. Berharap hati Anggi luluh sejenak.
Tiara
masih mendengar suara ibunya, melihat Sekar dari jendela kamar lantai dua.
Sungguh, ia sekarang menyesal telah menyia-nyiakan ibu kandungnya selama ini.
Ia ingin minta maaf. Sungguh. Satu persatu air matanya pun jatuh. Tidak lama
kemudian, tubuh ibunya perlahan-lahan meninggalkan rumah elit itu. Meninggalkan
brownies kukus di depan pintu. Bergegas, ia pun turun diam-diam, untuk
mengambil makanan kesukaannya.
****
Keesokan
harinya lagi, Sekar tetap akan mengunjungi rumah Sam. Kali ini ia tetap akan
membawakan brownies. Ditambah CD yang berisi video. Dan masih seperti
kemarin-kemarin, ia hanya naik angkot untuk sampai disana. Tubuhnya semakin
lemas, demamnya belum sembuh. Entahlah, penyakit HIV nya juga seperti tambah
parah. Masih menggunakan syal dan baju hangat beberapa lapis.
Baru
akan menyebrang jalan yang super ramai, tanpa melihat kanan-kiri, ia
tertatih-tatih. Namun, rupanya di jarak yang tidak jauh, melaju mobil
berkecepatan tinggi. Tidak bisa terkendali. Dan Allah pun langsung berkata
lain. Sekar tertabrak. Mobil Avanza hitam yang menabrak langsung berlumuran
darah. Tas yang berisi brownies dan CD itu tetap ada dalam genggamannya.
Orang-orang yang melihat, berhamburan segera menolong.
“P-a-k..”
patah-patah ia bersuara. “T-o-l-o-n-g,” napasnya tersengal, “Antarkan tas ini
ke..” ia masih berusaha bersuara, “Pe-ru-mah-an Ken-cana..Per-mai..no-mor..seratus..B,”
malaikat pencabut nyawa bertugas. Sekar telah meninggal.
Bapak-bapak
yang dipesani tadi, sekaligus yang menabrak, langsung mengambil tas Sekar.
Sementara warga yang lain berbondong-bondong membawa jenazah Sekar yang
berlumuran darah ke Rumah Sakit.
****
Rumah
nomor 100B itu sepi. Seperti biasanya. Namun, kali ini hanya ada Tiara dan
pembantunya. Bapak-bapak tadi telah melaksanakan tugasnya. Tas Sekar sudah ada
di tangan Mbok Dedeh.
“Non,
ada titipan nih..Mbok juga nggak tau ini isinya apa,” ujar Mbok Dedeh dan
langsung menyerahkan tas itu ke pangkuan Tiara.
Mata
anak itu langsung membulat senang. Sangat mengenal tas itu. Pasti dari Mama,
batinnya. Cepat-cepat ia buka isi tas. Tangannya merogoh, mengeluarkan brownies
dan apa? CD? Hatinya sangat bertanya-tanya. Penasaran. Tiara akhirnya juga
menyalakan laptop, menyetel CD itu. Ekspresinya berubah drastis. Dari ceria
menjadi berlinangan air mata. Itu adalah video yang dibuat ibunya sendiri, yang
berisi kesedihan, keceriaan ‘terpaksa’, kesusahan yang tergambar dibuat
menyenangkan, selama ia sendiri. Semenjak Tiara tinggal bersama Sam dan istri
barunya.
Ia
kembali menangis, di akhir video tersebut, Sekar berpesan.
“Tiara
sayang, tetaplah menjadi anak yang kuat, yang tabah, dan selalu ceria..jadilah
anak kebanggaan orang tua, ah ya..jangan lupa browniesnya di makan sampai habis
ya, Nak. Ini spesial Mama buatin untuk kamu. Dan Mama Sekar hanya minta kamu
untuk doain Mama supaya bisa tersenyum lagi, tenang, dan bahagia. I miss you
and, love you,” itulah
pesan terakhirnya untuk Tiara.
Tangisannya
semakin meluber. Tiba-tiba telepon berdering, cepat-cepat ia angkat.
“Halo,
apa benar ini rumah bapak Sam?”
“Iya
benar, ini saya anaknya. Ada apa Pak?”
“Kami
dari pihak Rumah Sakit, mengabarkan bahwa ibu Sekar Aprilia telah meninggal
dunia dan sudah selesai di autopsi.”
Hening.
Tiara terdiam seketika. Menjatuhkan telepon. Shock.
****
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar