اهلا و سهلا

اهلا و سهلا

Sabtu, 31 Mei 2014

The Last Brownies





Matanya berkaca-kaca. Sambil menatap langit yang berhiaskan bintang dan bulan sabit, ia memaksakan diri untuk tersenyum. Merekahkan senyum kepada kerlap-kerlip cahaya di atas sana. Ia hanya berusaha husnudzhan kepada Sang Pencipta, bahwa semua akan bisa terlewati. Ia percaya, tak ada kebahagiaan dan kesedihan yang abadi di dunia ini. Semua hanya sementara.
Sebutir air mata bening pun meluncur dari pipinya. Mulai terisak. Perlahan, ia tertunduk menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan. Menangis. Tidak ada teman, kerabat, tetangga, ataupun keluarga di sampingnya saat ini. Dirinya benar-benar sendiri, seperti berdiri di atas bebatuan karang di tengah lautan seorang diri. Hidupnya sedang dipenuhi berbagai masalah, secara fisik maupun batin. Butuh perjuangan berat untuk menempati surga-Nya, katanya dua hari yang lalu.
Seolah ikut merasakan masalah, alam pun juga menangis. Hujan rintik dan perlahan-lahan deras baru saja turun. Wanita itu segera beranjak dari ayunan, masuk ke dalam rumah cepat-cepat. Kakinya memasuki ruang tamu. Tetesan air hujan yang sudah lekat di tubuhnya pun mulai membasahi lantai. Tiba-tiba wajahnya ia tempelkan ke jendela, menatap hujan yang turun semakin deras.
Pikirannya terbayang sosok anak perempuan duduk di kursi roda, sengaja hujan-hujanan bersama seorang ibu dan ayahnya. Mereka tertawa, bercanda, dan saling menyipratkan air satu sama lain. Terlihat bahagia sekali. Ah, kenangan itu. Dan bulir air dari bola mata coklatnya kembali terjatuh.
Tidak ingin berlarut dalam kenangan, ia mengusap pipinya yang belum juga kering, lalu membalikkan badan. Segera ke kamar mandi mengganti pakaian, dan menghangatkan diri menyeduh kopi di ruang tamu. Sendiri.
****
Waktu terus berjalan. Sekarang pukul 00.30 dini hari. Selarut itu, matanya belum terpejam, dipenuhi berbagai kata bagaimana, apa, mengapa, dan pikiran negatif lainnya. Tangannya meraih handphone, mencari menu kontak dan mengetikkan salah satu nama yang pernah ada di hidupnya. Menekan tombol call. Satu, dua, tiga detik, mulai tersambung. Agak lama, akhirnya si pemilik telepon pun mengangkat. Suara berat menyapa.
“Ada apa malam-malam begini telepon, hah? Tiara sudah tidur. Jangan ganggu dia!”
“Aku tahu Tiara sudah tidur, aku hanya ingin kau memenuhi permintaanku kali ini saja Sam,”
“Tak usah kau sebutkan aku juga sudah tahu apa permintaanmu. Hei, kau tahu sendiri bukan? Tiara itu tidak ingin berbicara bahkan bertemu denganmu barangkali satu menit saja, sudahlah Sekar..” terdengar suara helaan napas, ia melanjutkan. “Kau itu tak pantas dekat-dekat dengan anakku! Dirimu tidak lebih dari seorang wanita murahan! Jadi, itu alasan yang tepat agar kau menjauhi anakku.” kata-kata pria itu sangat menusuk hati Sekar. Sekar langsung menangis.
“Ini salah paham Sam, kau tak mengerti kejadian sebenarnya. Tak seharusnya kau menghinaku dengan kata-kata menyakitkan itu. Aku sudah tidak menyentuh dunia hiburan malam sedikitpun, aku di jebak Sam,” ia kembali terisak. Benar-benar terisak sampai suaranya parau.
“Halah, kau ini memang pemain sandiwara ulung Sekar, masa lalumu itu bisa dijadikan pegangan, kalau kau bisa saja sewaktu-waktu membalikkan fakta yang ada. Sekali murahan tetap saja murahan! Tiara sekarang sudah tidak membutuhkanmu, ia sudah punya ibu baru yang lebih baik daripada kau. Ia sangat bahagia, tidak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya. Jadi, jangan coba-coba ganggu dia! Ingat itu!”
“Tak masalah jika selamanya Tiara akan tinggal bersama kau dan istri barumu. Tapi Sam, statusku masih ibu kandungnya, ibu biologis dari Tiara. Tidakkah kau merasakan betapa aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku karena penyakit ini bersama anakku Sam..aku mohon, bujuklah dia agar mau menemui ibunya dan pulang ke rumahku, hanya untuk beberapa hari saja..” nada bicaranya kali ini sangat memohon. Namun sayang, Sam tetap bersikukuh.
“Oh, jelas tidak akan! Aku tidak akan mau merasakan apa yang kau rasakan. Itu karma bagimu! Dan justru itu, aku sangat tidak mau Tiara bersamamu lalu tertular penyakit itu. Enak saja!” helaan napasnya kembali terdengar. Sedikit menguap. Kemudian segera memberhentikan pembicaraan. “Stop! Berhenti menangis dan memohon kepadaku! Sudah..sudah! aku mengantuk, kau sangat mengganggu tidurku.”
Sambungan telepon terputus. Pertengkaran kecil tadi menghabiskan waktu setengah jam. Energi wanita itu terkuras. Ia kembali terbatuk hebat. Kepalanya pusing, rasanya ingin muntah, badannya seperti demam. Semenjak ia terdeteksi mengidap penyakit HIV, kondisi kesehatannya semakin menurun drastis. Belum lagi kondisi batinnya yang sangat tidak karuan. Ia benar-benar down. Sekarang, ia hanya memaksakan diri untuk segera memejamkan mata. Tetap optimis, semua akan baik-baik saja.
****
Masih pada waktu dini hari yang sama, di sisi lain, rumah berlantai dua yang terkesan megah itu sudah ada kehidupan. Di kamarnya yang luas serta bercat biru laut dipenuhi boneka teddy bear, ia terjaga. Berkedip-kedip menatap langit-langit kamar sambil memeluk boneka sangat erat. Pikirannya dikelilingi banyak hal. Termasuk tentang ibu kandungnya. Ya, dialah Tiara.
Entahlah, ia sudah terjaga dalam diam sejak lama atau baru sebentar, yang jelas tiba-tiba hatinya merasakan gejolak penolakan yang telah ia lakukan selama ini kepada ibunya. Ia merasa, dirinya bukanlah Tiara yang dulu. Yang selalu tersenyum saat ibunya pulang, yang selalu berkata lemah lembut, yang selalu bercerita apa yang ia mimpikan semalam, dan semua perilaku baiknya ia tunjukkan pada orang yang melahirkannya itu. Hatinya belakangan ini tidak tenang, diliputi segala kegelisahan tak berujung setiap kali ia melakukan hal yang biasanya tidak pernah ia lakukan. Selalu bertanya pada diri sendiri, mengapa ia sampai bersikap seperti itu kepada Ibunya.
Pikirannya memang masih labil. Wajar, ia baru berusia 14 tahun. Salah satu faktor yang juga memengaruhi emosinya adalah kondisi fisiknya yang hanya bisa beraktivitas di kursi roda. Kadang-kadang emosinya tak terkendali. Dahulu, ia sering memaki diri sendiri kenapa ia tidak bisa berjalan, tidak punya kaki, dan makian-makian yang lain. Namun, dulu Sekar selalu berhasil membesarkan hati anaknya. Sekarang, dan untuk kali ini, makian itu selalu ditujukan pada ibunya di telepon maupun saat bertatap muka langsung. Semua itu tidak lain adalah karena pengaruh-pengaruh dari ayah dan ibu tirinya untuk membenci Sekar karena ia dianggap membawa penyakit menular, bisa membahayakan dirinya, dan bukan sosok ibu yang baik. Karena itulah, Tiara yang sekarang berbeda dari Tiara yang dulu.
Tiara kembali memiringkan tubuhnya, mengenang masa-masa menyenangkan bersama ibunya. Sebelum ia pindah ke rumah ayahnya.
“Maa, ayo buruaan..Tiara udah nggak sabar nih, pengen cepet-cepet bisa makan brownies,” Tiara berteriak dari dapur, memanggil Mamanya yang masih di dalam kamar, di depan laptop.
“Iyaa sayaang, bentaar..Mama beresin dulu,” jawabnya yang juga berteriak. Tangannya cekatan membereskan charger, laptop, dan beberapa lembaran kertas yang berserak di kasurnya. Segera menuju dapur.
“Aduuh, Mama lama banget deh. Perut Tiara udah nggak sabar nih Maa,” suara nyaringnya langsung membuat gema di dapur. Sekar hanya tersenyum, menyambar celemek dan mengambil bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat karya andalannya, brownies kukus.
Telur, gula pasir, terigu, dan vanili sudah siap sedia di meja. Tiara juga telah mengenakan celemek, tangannya memegang baskom dan mixer. Senyum-senyum. Ia sudah siap memasak!. Dengan terampil, tangan Sekar–juga Tiara–memasukkan telur, gula pasir, TBM, dan vanili ke dalam baskom. Tugas anak perempuan itu adalah, mengocoknya sampai mengembang.
Sementara itu, Sekar segera mencari terigu, coklat Van Hauten, susu coklat, dan pasa coklat untuk langkah selanjutnya. Tak ketinggalan, ia pun mengambil loyang persegi berukuran sedang. Sesekali anaknya menanyakan pada ibunya, apakah adonan yang ia buat sudah mengembang atau belum, dan jawaban Sekar hanya gelengan, sambil tersenyum. Kebalikan dengan ekspresi anaknya, yang justru agak kusut karena tangannya sudah pegal memutar-mutarkan mixer.
Di sela-sela membuat brownies, dengan jahilnya tangan Tiara menempelkan tangannya yang belepotan gandum, dan mencubit pipi ibunya. Menjadi cemong. Seakan tidak terima, Sekar pun membalasnya. Alhasil, jadilah ‘permainan’ seru antara ibu dan anak. Setelah semua tercampur dan tinggal menunggu matang dalam kukusan, Sekar jongkok, menatap anaknya lamat-lamat dan memegang kedua lengannya. Erat.
“Sayang..makasih banyak ya, udah jadi anak yang baik buat Mama,”
“Harusnya Tiara yang banyak-banyak bilang terima kasih sama Mama, soalnya kalau nggak ada Mama, Tiara nggak akan jadi seperti ini. Karena Mama, aku jadi lebih bisa menghadapi kehidupan ini dengan syukur, kuat, sabar dan ceria. Seperti pesan Mama. Terima kasih Maa..” jawabnya dengan ceria.
Mata Sekar berkaca-kaca. Merasakan betapa beruntungnya ia memiliki anak seperti Tiara. Berpelukan erat-erat.
“Udah ah Ma, jangan pake nangis-nangis..hehe. Kan sekarang bukan halal-bihalal, aku aja nggak nangis. Masa’ Mama nangis sih, huu cengeng.” Ia sudah melepas pelukan, tertawa terbahak sedikit meledek.
“Ah kamu ini Nak, bisa saja.” Ia menanggapi singkat, mengusap air mata. Brownies sudah matang.
Brownies nya udah matang ya Maa, wah akhirnyaa..” ia benar-benar tak sabaran.
Hmm. Kenangan itu. Terakhir kalinya ia memakan brownies kukus bersama ibunya. Tawa dan canda pun seolah hilang begitu saja. Ah, aku rindu dengan brownies buatan Ibu, katanya dalam hati. Sekarang posisi tidurnya berubah. Ia menitikkan air mata.
****
Pagi menyapa, ayam jago bersahut-sahutan membangunkan manusia, mengeluarkan suara emasnya kepada alam. Setetes embun baru saja jatuh, setelah dirinya tak kuat lagi berada di ujung daun. Udara dingin. Aroma tanah yang khas masih tersisa. Genangan air dimana-mana.
Sekar masih meringkuk dalam selimut. Ia demam. Alarm nya berdering nyaring.
Dengan sekuat tenaga, ia memaksakan diri untuk membuka mata. Berjalan menuju kamar mandi, dan mengambil air wudhu. Matahari memang telah menyingsingkan lengannya, namun semangatnya untuk tetap melaksanakan kewajibannya, masih semangat 45.
Lima belas menit berlalu, sekarang ia masih mengumpulkan tenaga untuk pergi ke rumah mantan suaminya kembali. Menemui anaknya. Sedikit berbeda dari kemarin-kemarin, kali ini ia akan membawakan makanan kesukaannya. Brownies kukus. Untung saja, bahan-bahan untuk membuat brownies masih ada. Ia tersenyum. Segera membuat.
****
Kompleks perumahan elit itu memang selalu sepi. Semua penghuni melakukan aktivitasnya di luar rumah. Begitu pula rumah yang Sekar tuju saat ini. Selalu sepi. Mungkin Sam dan istrinya sudah berangkat kerja, batinnya. Ia pun memencet bel. Berharap pembantu rumah ini segera membuka pintu dan mengizinkannya menemui Tiara.
Pintu di buka, dugaannya salah. Yang menyambut dirinya bukanlah pembantu atau bahkan anaknya, tetapi istri Sam. Dengan mata yang masih setengah terpejam, mata seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima itu langsung melotot begitu melihat tamu yang ada di hadapannya sekarang ialah Sekar.
“Heh, ngapain kamu kesini? Mau cari gara-gara lagi, hah?”
“Ang, aku ingin bertemu anakku..” Sekar memohon sambil memegang tangan istri mantan suaminya. Sesekali syal yang ia kenakan melorot. Tas yang berisi brownies masih ia tenteng. Wajahnya sangat terlihat pucat.
“Sudahlah, berapa kali kami harus bilang padamu. Jangan temui Tiara lagi!” tangannya cepat-cepat melepaskan genggaman ‘hangat’ itu. Sekar sampai terjatuh. Semakin lemas.
Merasa mendengar ribut-ribut, Tiara menjalankan kursi rodanya. Menuju ke sumber suara. Kebetulan, Sam memang tidak ada di rumah. Ia ada meeting dadakan. Kali ini Sekar lumayan beruntung tidak bertemu dengan Sam. Sebab, jika ia sudah bertemu Sam, tentulah hati dan fisiknya akan semakin sakit karena di sia-sia. Entah itu di dorong sampai terjatuh dan berdarah, atau dipukul karena ia tetap bersikukuh ingin menemui anaknya. Malang nian nasibnya.
Ia masih tersungkur dan di ‘ceramahi’ Anggi–istri Sam. Air matanya berderai. Aroma brownies kukus sudah tidak lagi tercium. Tiara mendekat.
“Mama..” ia bersuara takut-takut.
“Tiara! Ngapain kamu keluar..ini urusan orang dewasa. Masuk sana!” ujar Anggi masih dengan nada emosi. Yang disuruh masuk masih di tempat. Sedangkan Sekar langsung terbangun. Bangkit dari jatuh, segera menghampiri anaknya. Tenaganya seperti sudah on. Ia seperti tidak mempunyai penyakit.
“Jderr!!” sayang seribu sayang, buru-buru Anggi menutup pintu dengan keras. Lagi-lagi Sekar gagal bertemu anaknya.
“Anggii..aku mohon, izinkan aku kali ini sajaa.” kembali, ia terduduk lemas. “Aku hanya ingin memberikan brownies ini pada Tiaraa..” sekuat tenaga ia bersuara kencang-kencang. Berharap hati Anggi luluh sejenak.
Tiara masih mendengar suara ibunya, melihat Sekar dari jendela kamar lantai dua. Sungguh, ia sekarang menyesal telah menyia-nyiakan ibu kandungnya selama ini. Ia ingin minta maaf. Sungguh. Satu persatu air matanya pun jatuh. Tidak lama kemudian, tubuh ibunya perlahan-lahan meninggalkan rumah elit itu. Meninggalkan brownies kukus di depan pintu. Bergegas, ia pun turun diam-diam, untuk mengambil makanan kesukaannya.
****
Keesokan harinya lagi, Sekar tetap akan mengunjungi rumah Sam. Kali ini ia tetap akan membawakan brownies. Ditambah CD yang berisi video. Dan masih seperti kemarin-kemarin, ia hanya naik angkot untuk sampai disana. Tubuhnya semakin lemas, demamnya belum sembuh. Entahlah, penyakit HIV nya juga seperti tambah parah. Masih menggunakan syal dan baju hangat beberapa lapis.
Baru akan menyebrang jalan yang super ramai, tanpa melihat kanan-kiri, ia tertatih-tatih. Namun, rupanya di jarak yang tidak jauh, melaju mobil berkecepatan tinggi. Tidak bisa terkendali. Dan Allah pun langsung berkata lain. Sekar tertabrak. Mobil Avanza hitam yang menabrak langsung berlumuran darah. Tas yang berisi brownies dan CD itu tetap ada dalam genggamannya. Orang-orang yang melihat, berhamburan segera menolong.
“P-a-k..” patah-patah ia bersuara. “T-o-l-o-n-g,” napasnya tersengal, “Antarkan tas ini ke..” ia masih berusaha bersuara, “Pe-ru-mah-an Ken-cana..Per-mai..no-mor..seratus..B,” malaikat pencabut nyawa bertugas. Sekar telah meninggal.
Bapak-bapak yang dipesani tadi, sekaligus yang menabrak, langsung mengambil tas Sekar. Sementara warga yang lain berbondong-bondong membawa jenazah Sekar yang berlumuran darah ke Rumah Sakit.
****
Rumah nomor 100B itu sepi. Seperti biasanya. Namun, kali ini hanya ada Tiara dan pembantunya. Bapak-bapak tadi telah melaksanakan tugasnya. Tas Sekar sudah ada di tangan Mbok Dedeh.
“Non, ada titipan nih..Mbok juga nggak tau ini isinya apa,” ujar Mbok Dedeh dan langsung menyerahkan tas itu ke pangkuan Tiara.
Mata anak itu langsung membulat senang. Sangat mengenal tas itu. Pasti dari Mama, batinnya. Cepat-cepat ia buka isi tas. Tangannya merogoh, mengeluarkan brownies dan apa? CD? Hatinya sangat bertanya-tanya. Penasaran. Tiara akhirnya juga menyalakan laptop, menyetel CD itu. Ekspresinya berubah drastis. Dari ceria menjadi berlinangan air mata. Itu adalah video yang dibuat ibunya sendiri, yang berisi kesedihan, keceriaan ‘terpaksa’, kesusahan yang tergambar dibuat menyenangkan, selama ia sendiri. Semenjak Tiara tinggal bersama Sam dan istri barunya.
Ia kembali menangis, di akhir video tersebut, Sekar berpesan.
“Tiara sayang, tetaplah menjadi anak yang kuat, yang tabah, dan selalu ceria..jadilah anak kebanggaan orang tua, ah ya..jangan lupa browniesnya di makan sampai habis ya, Nak. Ini spesial Mama buatin untuk kamu. Dan Mama Sekar hanya minta kamu untuk doain Mama supaya bisa tersenyum lagi, tenang, dan bahagia. I miss you and, love you,” itulah pesan terakhirnya untuk Tiara.
Tangisannya semakin meluber. Tiba-tiba telepon berdering, cepat-cepat ia angkat.
“Halo, apa benar ini rumah bapak Sam?”
“Iya benar, ini saya anaknya. Ada apa Pak?”
“Kami dari pihak Rumah Sakit, mengabarkan bahwa ibu Sekar Aprilia telah meninggal dunia dan sudah selesai di autopsi.
Hening. Tiara terdiam seketika. Menjatuhkan telepon. Shock.
****
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar