اهلا و سهلا

اهلا و سهلا

Rabu, 30 April 2014

Kata hati



Strawberry Coffee

Strawberry Coffee..
Manis juga sedikit pahit.
Strawberry Coffee..
Berwarna pink, berpadu dengan cokelat muda.
Strawberry Coffee..
Menandakan sebuah perbedaan yang bisa menjadi satu.
Mungkin memang tidak ‘nyambung’.
Namun itulah yang terjadi.
Dan aku percaya bahwa mereka bisa bersatu.
Untuk menciptakan warna, rasa, dan ‘kehidupan’ baru.
Karena Strawberry Coffee,
Bagaikan aku dan kamu :)

Jogja, 01 Mei 2014

Selasa, 29 April 2014

sajak hati

Sajak Rindu #1
Menemukanmu, adalah
Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Bertemu denganmu, adalah
Seperti jarum jam yang tak pernah berhenti berjalan,
Namun tetap tak ditemukan juga ujungnya.
Tapi, menitipkan namamu dalam doa
Adalah satu-satunya cara termudah,
Untuk obat kerinduan ini..
YK, 23032014

Sajak Rindu #2
Bagaimana aku bisa berhenti berhitung,
Jika hari terus saja bergulir.
Bagaimana aku bisa mengobati rindu ini,
Jika aku saja belum menemukan obatnya.
Harus bagaimana lagi aku akan mengatakan ini padanya,
Jika yang bisa kulakukan hanyalah menuliskan kehampaan ini dalam secarik kertas.
YK, 23032014


Sajak Hati #1
Menjadi bintang di langit memang tidaklah mudah
Harus berkelap-kelip,
Memancarkan sinar,
Dan harus datang di setiap malam.
Namun, tidak denganmu.
Kau tak perlu jadi bintang di langit setiap malam.
Menunjukkan sinar terbaikmu, kepada jagat raya.
Tidak. Tidak perlu.
Kau cukup singgah di hatiku, dan bersinarlah sesuka hatimu.
Kapan pun yang kau mau.
Entah itu sinar ‘kelebihanmu’, ataukah sinar ‘kekuranganmu’
Aku tak peduli, sungguh.
Aku hanya peduli, dengan pancaran sinar
Yang keluar dari dalam dirimu.
YK, 23032014


Sajak Hati #2
Bukan cinta namanya jika kita tidak merasakannya,
Bukan rindu namanya jika kita tidak merasa rindu,
Bukan pula sahabat namanya jika ia tak ada disamping kita.
Di samping kala kesedihan melanda
Disisi kala kegembiraan menyelimuti.
Sahabat adalah kehidupan..
YK, 06122013

Sajak Hati #3
Entahlah, itu ditujukan untuk siapa..
Entahlah, bagaimana pula aku harus menyimpulkan dan bersikap..
Entahlah, dan entahlah,
Dada ini tiba-tiba terasa sesak
Dipenuhi tanda tanya besar
Yang entah kapan akan terjawab
YK, 09102013

Jangan..
Mataku belum bisa berayun-ayun seperti biasa,
Hidungku mulai kembang kempis mengatur napas.
Bibirku kering..
Lidahku kelu..
Kaki ini terpasung angin.
Telingaku mendengar rintihan-rintihan itu.
Dan tanganku, terpaku tak bisa berbuat apa-apa
Hanya hati yang masih bisa berucap.
Ya Allah..
Jangan biarkan matanya jatuh,
Jatuh di pangkuannya.
Jangan biarkan suaranya keluar,
Keluar dengan rintihan.
Jangan Ya Rabb..

YK, 26032014

Senin, 28 April 2014

Dosen Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Raih Doktor Psikologi di UGM


Selasa, 15 April 2014 07:56:47 WIB
Dilihat : 816 kali

Senin, 14 April 2014 dihadapan Tim Penguji Doktor Fakultas Psikologi UGM, yang terdiri dari Prof. Dr. Asmadi Alsa, Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D. Yapsir Gandi Wirawan, MA., Ph.D. Prof. Dr. Saifudin Azwar, MA. Prof. Amatya Kumara, Prof. Dr. Sartini Nuryoto, Sumarno, MA., Ph.D. Eva Latipah (Dosen Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Sunan Kalijaga) berhasil mempertahankan hasil penelitian disertasinya yang berjudul “ Pengaruh Strategi Pembelajaran Eksperensial Terhadap BBRD (Belajar Berdasar Regulasi Diri Mahasiswa)”. Dengan demikian Eva Latipah dinyatakan lulus Program Doktor Psikologi Fakultas Psikologi, UGM, dengan predikat “Memuaskan”
Dihadapan Tim Penguji Eva Latipah mengatakan bahwa, Ada hubungan Positif yang sangat signifikan antara BBRD (Belajar Berdasarkan Regulasi Diri) dengan prestasi belajar matematika. Korelasi positif yang sangat signifikan ini menunjukkan adanya korelasi yang searah, dimana peningkatan BBRD secara proporsional akan diikuti oleh peningkatan prestasi belajar matematika. Sebaliknya, Penurunan BBRD secara proporsional akan diikuti oleh penurunan prestasi belajar matematika. BBRD mampu meningkatkan prestasi belajar matematika karena mahasiswa telah belajar matematika dengan cara melibatkan motivasi, metakognisi, dan perilakunya dalam pembelajaran. (Fauzi Barkah – Humas UIN Sunan Kalijaga).

sumber :  http://uin-suka.ac.id

Selasa, 22 April 2014

tak bisa itu, ini pun jadi

mungkin ini memang jalanku disini. jalan yang sebelumnya pernah aku bayangkan. dulu ketika MA, aku pernah berpikiran, ah betapa aku ini ingin keluar dari Jogja. ingin belajar hidup mandiri jauh dari orang tua, ingin merasakan betapa kerasnya hidup, dan bayangan-bayangan lain. entah kenapa pula, aku juga berpikiran bahwa aku ingin pergi ke Malang! tepatnya UIN Maulana Malik Ibrahim. kuliah disana meskipun tak punya saudara sama sekali.
beberapa tahun kemudian, masih duduk di bangku MA, aku mengutarakan isi hatiku kepada orang tua. apa yang mereka katakan? tidak. aku tidak boleh kesana! begitu kata ayahku.
singkat cerita, akhirnya aku mengobati hati dengan mencari UIN yang lain alias move on. sebenarnya berat juga, tapi apalah dayaku. aku ini hanya dibiayai, jadi ya harus 'ngikut' saja sama orang tua.
yaa, dan pada akhirnya dan ujung-ujungnya, aku tetap ada di kotaku ini, dan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
aku belajar, mandiri itu tidak diukur dengan jauh-dekatnya kita tinggal dalam menuntut ilmu, tapi mandiri adalah kemampuan kita dalam memanage sesuatu yang ada. kita bisa meng-handle, dan berhasil menyelesaikan masalah yang ada, itulah artinya sebuah kemandirian. semua serba sendiri. :)
sekarang pun aku bersyukur dan berusaha menikmati apa yang kemarin, besok, dan nanti ku jalani.
perjalanan kesuksesan itu penuh liku.....

Senin, 21 April 2014

cerpen lamaku :)

Seminar Pertamaku

Aku membuka lemari. Mencari-cari baju terbaikku. Dimana pula baju biru favoritku itu. Mengacak seluruh isi lemari. Kembali melirik jam. Aku semakin buru-buru, tidak ingin datang terlambat di acara pentingku. Acara yang sudah lama ku inginkan. Ya, aku tidak boleh datang terlambat. Batinku lagi.
Lima menit lagi, jam menunjukkan pukul 10.00. Baju biruku tetap tidak ketemu. Oh tidaak, aku lupa. Ternyata baju favoritku itu ada di cucian. Belum ku cuci pula. Aku menepuk jidat. Segera mencari baju lain. Aduuh, baju yang sudah kusetrika hanya baju merah. Bagaimana mungkin aku akan memakai baju kebesaran hadiah ibu itu? Huft. Benar-benar menyebalkan. Sekarang aku mencari rok. Rok hitam? Oh ya, masih ku gantung di pintu. Dengan buru-buru sekali, aku mengambilnya. Ya ampun, rok hitam ini sangat kotor. Terakhir aku pakai, ketika acara outbond tiga hari yang lalu. Sangat terpaksa, kupakai saja rok itu. Sebab, aku tak mempunyai rok bersih, rapi, dan harum selain rok tadi.
Gawat. Sekarang jam 10.20. Aku hanya punya waktu sepuluh menit untuk sampai di lokasi seminar. Waktu yang singkat. Padahal, jarak kos-kosanku ke lokasi memakan waktu yang lumayan lama. Aduuh, aku payah. Tidak bisa mengira-ngira waktu dengan baik. Gerutuku. Jika saja aku tak bangun kesiangan, pasti tidak akan seperti ini.
Aku bercermin. Menatap diriku lamat-lamat. Merasa aneh dengan ‘kostum’ yang aku kenakan. Rok hitam, dengan atasan merah menyala motif bunga yang kedodoran, serta jilbab merah muda yang menempel di kepalaku. Melihat diriku saja, aku malu. Bagaimana jika bertemu banyak orang nanti? Aku menghela nafas. Mencoba menenangkan diri, berpikir positif dan husnudzan saja.
HP ku berdering. Pasti dari panitia seminar. Dengan sigap, langsung ku angkat.
Assalamualaikum,” sapaku.
Waalaikumussalam. Bagaimana Mbak? Sudah sampai mana? Perlu dijemput?” tanyanya. “Para peserta seminar sudah banyak yang menanti kedatangan Mbak Azki.”
“Maaf Dik, aku baru mau berangkat. Tolong tunggu sebentar, mungkin perjalanannya sekitar sepuluh menit.” kataku menenangkan.
“Baik Mbak, kami tunggu. Wassalamualaikum,”
Waalaikumussalam.”
“Klik.” panggilan sudah di akhiri.
Aku segera keluar kamar, mengunci pintu, mengambil motor. Aku benar-benar terlambat. Perlahan, aku mulai meninggalkan kos tepat pukul 10.30.
Di tengah perjalanan, aku terjebak macet. Alamak, aku paling tak sabar jika harus menunggu di jalan berjam-jam. Akhirnya, aku putuskan untuk berjalan kaki. Motor Honda Beat ku, dititipkan di tempat penitipan motor. Untung saja, ada tempat itu. Oke, tak apalah aku jalan kaki. Jaraknya juga sudah dekat.
Setibanya di lokasi seminar, aku benar-benar gerah. Berjalan buru-buru dengan jarak jauh, di tambah sinar matahari yang sangat menyengat, langsung membuatku berkeringat. Tak sempat meluruskan kaki, aku langsung disambut oleh panitia seminar. Ia mengenakan almamater dan rok biru SMP. Aku mengisi acara di almamaterku sendiri. SMP Negeri Tunas Melati. Sekarang aku sudah kelas XII, di SMA Negeri I Malang. Tiba-tiba, tanpa kusadari beberapa wartawan datang menghampiriku.
“Siang Mbak, bisa minta keterangannya sebentar?” tanya seorang perempuan berambut pendek, dengan tangan membawa microphone. Seperti disengat listrik, aku bingung harus melakukan apa. Beruntung, panitia seminar buru-buru mengajakku ke aula. Meminta wawancaranya di tunda.
“Mari Mbak Azki, kita ke aula.” ajak remaja itu yang bernama Resti. Ia Sie Humas.
Anak tangga ku lewati. Jantungku berdebar tak beraturan. Ini kali pertama aku diminta menjadi pembicara untuk acara seperti ini. Selain itu, aku juga diminta ‘membedah’ novel perdanaku yang baru bulan lalu dicetak. Ku atur nafas, berusaha se-rileks mungkin. Aku pasti bisa. Yakinku di dalam hati.
Sekarang, kakiku sudah memasuki aula. Kulihat peserta yang hadir. Wow, penuh. Semua mata tertuju padaku. Ah, aku malu. Apalagi, dengan ‘kostum’ aneh ini. Tidak, aku tidak boleh suudzan. Mungkin mereka hanya penasaran, yang mana pembicara seminar ini. Aku mencoba menenangkan diri, dengan mengamati ruangan. Aula ini sudah agak berubah. Tepatnya lebih bagus dan lebih nyaman.
“Baiklah, narasumber kita telah hadir. Mari kita beri aplause..” ujar salah satu MC dengan intonasi yang tepat. Tepuk tangan sangat riuh, aku sedikit nervous. Menghela nafas.
Panitia mempersilakanku duduk. Tidak lama, Sie Konsumsi datang membawa snack dan air mineral. Alhamdulillah, aku lega. Akhirnya bisa minum juga. Aku sangat haus.
“Terimakasih,” kataku sambil tersenyum. Dengan diam-diam, aku mencuri waktu untuk minum sebelum acara resmi dimulai.
Baru minum seperempat, ternyata MC sudah mempersilakan berbicara di acara inti.  
“Uhuk,” aku tersedak. Sakit sekali rasanya. Para MC melihatku, apalagi peserta seminar–yang ingin acaranya segera dimulai.
Moderator yang ada di sebelahku bertanya, apakah aku baik-baik saja. Aku tak bisa menjawab. Aduuh, bagaimana bisa? Suaraku tiba-tiba saja seperti menghilang bagaikan angin lalu. Ya Allah, aku mohon. Jangan biarkan semua yang ada disini menungguku. Kata hatiku yang terus memohon.
“Bagaimana Mbak? Sudah mendingan?” tanya moderator lagi. Sama saja, aku masih belum bisa bersuara dengan baik. Ada apa ini? Kenapa bisa begini? Tanganku mengisyaratkan untuk menunggu sebentar. Mereka mengangguk.
Ya Allah, bagaimana ini. Tolong titipkan suara lagi kepadaku, agar aku tidak mengecewakan semuanya. Aku mohon Ya Allah. Keringatku menetes dari pelipis sebesar butir jagung. Aku semakin gelisah.
Lima menit berlalu. Karena aku terus memohon, ada keajaiban. Dengan Kuasa Nya, suaraku kembali normal. Alhamdulillah. Mataku berkaca-kaca, segera meminta maaf kepada semua.
Acara inti tiba. Aku berdiri, sedikit mendekat dengan peserta seminar yang duduk lesehan. Moderator mulai menjalankan tugasnya, aku juga mulai berbicara. Rasa nervous menghampiri terus, yang membuat kata-kataku menjadi tak tertata seperti latihan di kamar kemarin. Alamak, kacau sudah acara ini.
Sangat terlihat, semua yang menyaksikanku tidak paham dengan apa yang ku maksud. Sangat fatal bukan? Padahal itu baru di bagian awal materi. Dan mereka sepertinya juga sudah kecewa, lalu mereka ngobrol satu sama lain. Ya Allah, bantu aku. Aku semakin gugup. Sementara suasana semakin gaduh.
MC mendekat, sedikit berbisik. Aku memutuskan ingin mengundurkan diri saja. Karena, hari ini menurutku benar-benar a bad day. Tidak biasanya, kepercayaan diriku sampai seperti ini. Tidak lama kemudian, panitia berkata lain. Aku tidak boleh mundur lantaran hanya masalah seperti ini. Oke, aku akan coba lagi semampuku. Bismillah. Aku menenangkan diri. Sekali lagi, aku tak ingin mengecewakan banyak orang. Dengan kemantapan hati, aku kembali ke depan. Menjelaskan materi berikutnya.
Allah sayang padaku. Ketika aku kembali maju, seperti tidak ada halangan apa-apa, dengan mudah aku menjelaskan semua. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Peserta tidak jadi bingung, mereka menjelaskan dengan antusias. Aku tersenyum senang.
Waktu hampir Dhuhur. Itu artinya, sesi pertama acara ini akan di tunda untuk istirahat dan makan siang. Baru mau mengatakan dua kalimat lagi, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Seperti ada yang menempel di pundak kananku. Aku ragu-ragu. Akan menengok ada apa di pundak sebelah kanan ini. Belum sempat melihat, salah seorang panitia meneriakiku.
“Mbak Azkiii..itu pundaknya ada sesuatuu..” teriaknya sangat kencang. Otomatis, aku langsung panik. Berteriak.
“Ada sesuatu apa Dik? Tolong jangan bercanda.” ujarku keras, sambil jongkok dan menutup muka. Aku benar-benar ketakutan.
“Anu Mbak, aku juga takut. Bentar ya Mbak, tak panggilin anak cowok dulu.” kata MC yang bernama Sei. Sepertinya ia langsung lari.
“Seii..di pundakku ada apa?” ucapku semakin ketakutan. Sekaligus menambah penasaran.
“Mbak tenang dulu, diem aja ya. Kita ambilin kayu.” ujar panitia yang lain. Mereka banyak yang menjaga jarak denganku. Sebenarnya ada apa di pundakku? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Ada rasa khawatir juga.
Entah bagaimana suasana siang itu, aku masih tak peduli. Mungkin semua orang yang disitu melihatku dengan tanda tanya. Entahlah.

*****

Pukul 04.30. Alarmku berbunyi.
“Bukkk!!” badanku terjatuh dari dipan. Sakit.
Aku membuka mata, mengerjap-ngerjap. Menguap. Mulai duduk, mematikan alarm di HP. Penglihatanku menatap seluruh kamar, dan juga pakaian yang aku kenakan. Apakah barusan aku mimpi buruk? Aku mengingat. Ah ya, benar. Aku mimpi buruk tentang seminar pertamaku. Mataku langsung terbuka lebar. Mengingat mimpi terakhir yang sangat membuatku dag-dig-dug, malu, sampai akhirnya terbangun. Aku menjerit sekuat tenaga karena yang menempel di pundakku saat itu ternyata ulat bulu. Hii. Hal itu benar-benar kejadian yang sangat membuatku malu di dalam mimpi tadi. Sebab, jika aku sudah dihadapkan dengan makhluk menggelikan itu, mau tidak mau, yang keluar pertama dari mulutku yaitu menjerit. Dan ulat bulu adalah salah satu phobiaku dari kecil. Ya ampun, aku sangat tidak menyangka, akan mimpi seperti itu. Untung saja, hanya mimpi. Aku benar-benar menghela nafas panjang. Lega.
Aku lupa. Tidak membaca doa sebelum tidur. Ya Allah, ampuni aku. Kataku dalam hati. Mungkin, mimpi tadi terbawa suasana hatiku semalam. Suasana hati yang sangat bingung menghadapi acara besar–seperti dalam mimpiku barusan–yang akan diadakan besok Minggu. Yaitu seminar. Semoga mimpi tadi tidak kenyataan. Kataku sambil meng-amini dalam hati. Aku mulai beranjak dari dipan. Melipat selimut, menata bantal dan guling, serta pergi ke kamar mandi untuk shalat Subuh. Adzan baru saja berkumandang.
*****