Seminar Pertamaku
Aku membuka lemari. Mencari-cari baju
terbaikku. Dimana pula baju biru favoritku itu. Mengacak seluruh isi lemari.
Kembali melirik jam. Aku semakin buru-buru, tidak ingin datang terlambat di
acara pentingku. Acara yang sudah lama ku inginkan. Ya, aku tidak boleh datang
terlambat. Batinku lagi.
Lima menit lagi, jam menunjukkan pukul
10.00. Baju biruku tetap tidak ketemu. Oh tidaak, aku lupa. Ternyata baju
favoritku itu ada di cucian. Belum ku cuci pula. Aku menepuk jidat. Segera
mencari baju lain. Aduuh, baju yang sudah kusetrika hanya baju merah. Bagaimana
mungkin aku akan memakai baju kebesaran hadiah ibu itu? Huft. Benar-benar
menyebalkan. Sekarang aku mencari rok. Rok hitam? Oh ya, masih ku gantung di
pintu. Dengan buru-buru sekali, aku mengambilnya. Ya ampun, rok hitam ini
sangat kotor. Terakhir aku pakai, ketika acara outbond tiga hari yang lalu. Sangat terpaksa, kupakai saja rok itu.
Sebab, aku tak mempunyai rok bersih, rapi, dan harum selain rok tadi.
Gawat. Sekarang jam 10.20. Aku hanya
punya waktu sepuluh menit untuk sampai di lokasi seminar. Waktu yang singkat.
Padahal, jarak kos-kosanku ke lokasi memakan waktu yang lumayan lama. Aduuh,
aku payah. Tidak bisa mengira-ngira waktu dengan baik. Gerutuku. Jika saja aku
tak bangun kesiangan, pasti tidak akan seperti ini.
Aku bercermin. Menatap diriku
lamat-lamat. Merasa aneh dengan ‘kostum’ yang aku kenakan. Rok hitam, dengan
atasan merah menyala motif bunga yang kedodoran, serta jilbab merah muda yang
menempel di kepalaku. Melihat diriku saja, aku malu. Bagaimana jika bertemu
banyak orang nanti? Aku menghela nafas. Mencoba menenangkan diri, berpikir
positif dan husnudzan saja.
HP ku berdering. Pasti dari panitia
seminar. Dengan sigap, langsung ku angkat.
“Assalamualaikum,”
sapaku.
“Waalaikumussalam.
Bagaimana Mbak? Sudah sampai mana? Perlu dijemput?” tanyanya. “Para peserta
seminar sudah banyak yang menanti kedatangan Mbak Azki.”
“Maaf Dik, aku baru mau berangkat.
Tolong tunggu sebentar, mungkin perjalanannya sekitar sepuluh menit.” kataku
menenangkan.
“Baik Mbak, kami tunggu. Wassalamualaikum,”
“Waalaikumussalam.”
“Klik.” panggilan sudah di akhiri.
Aku segera keluar kamar, mengunci
pintu, mengambil motor. Aku benar-benar terlambat. Perlahan, aku mulai
meninggalkan kos tepat pukul 10.30.
Di tengah perjalanan, aku terjebak
macet. Alamak, aku paling tak sabar jika harus menunggu di jalan berjam-jam.
Akhirnya, aku putuskan untuk berjalan kaki. Motor Honda Beat ku, dititipkan di
tempat penitipan motor. Untung saja, ada tempat itu. Oke, tak apalah aku jalan
kaki. Jaraknya juga sudah dekat.
Setibanya di lokasi seminar, aku
benar-benar gerah. Berjalan buru-buru dengan jarak jauh, di tambah sinar
matahari yang sangat menyengat, langsung membuatku berkeringat. Tak sempat
meluruskan kaki, aku langsung disambut oleh panitia seminar. Ia mengenakan
almamater dan rok biru SMP. Aku mengisi acara di almamaterku sendiri. SMP
Negeri Tunas Melati. Sekarang aku sudah kelas XII, di SMA Negeri I Malang.
Tiba-tiba, tanpa kusadari beberapa wartawan datang menghampiriku.
“Siang Mbak, bisa minta keterangannya
sebentar?” tanya seorang perempuan berambut pendek, dengan tangan membawa microphone. Seperti disengat listrik,
aku bingung harus melakukan apa. Beruntung, panitia seminar buru-buru
mengajakku ke aula. Meminta wawancaranya di tunda.
“Mari Mbak Azki, kita ke aula.” ajak
remaja itu yang bernama Resti. Ia Sie Humas.
Anak tangga ku lewati. Jantungku
berdebar tak beraturan. Ini kali pertama aku diminta menjadi pembicara untuk
acara seperti ini. Selain itu, aku juga diminta ‘membedah’ novel perdanaku yang
baru bulan lalu dicetak. Ku atur nafas, berusaha se-rileks mungkin. Aku pasti
bisa. Yakinku di dalam hati.
Sekarang, kakiku sudah memasuki aula.
Kulihat peserta yang hadir. Wow, penuh. Semua mata tertuju padaku. Ah, aku malu.
Apalagi, dengan ‘kostum’ aneh ini. Tidak, aku tidak boleh suudzan. Mungkin mereka hanya penasaran, yang mana pembicara
seminar ini. Aku mencoba menenangkan diri, dengan mengamati ruangan. Aula ini
sudah agak berubah. Tepatnya lebih bagus dan lebih nyaman.
“Baiklah, narasumber kita telah hadir.
Mari kita beri aplause..” ujar salah
satu MC dengan intonasi yang tepat. Tepuk tangan sangat riuh, aku sedikit nervous. Menghela nafas.
Panitia mempersilakanku duduk. Tidak
lama, Sie Konsumsi datang membawa snack dan air mineral. Alhamdulillah, aku lega. Akhirnya bisa minum juga. Aku sangat haus.
“Terimakasih,” kataku sambil
tersenyum. Dengan diam-diam, aku mencuri waktu untuk minum sebelum acara resmi
dimulai.
Baru minum seperempat, ternyata MC
sudah mempersilakan berbicara di acara inti.
“Uhuk,” aku tersedak. Sakit sekali
rasanya. Para MC melihatku, apalagi peserta seminar–yang ingin acaranya segera
dimulai.
Moderator yang ada di sebelahku
bertanya, apakah aku baik-baik saja. Aku tak bisa menjawab. Aduuh, bagaimana
bisa? Suaraku tiba-tiba saja seperti menghilang bagaikan angin lalu. Ya Allah,
aku mohon. Jangan biarkan semua yang ada disini menungguku. Kata hatiku yang
terus memohon.
“Bagaimana Mbak? Sudah mendingan?”
tanya moderator lagi. Sama saja, aku masih belum bisa bersuara dengan baik. Ada
apa ini? Kenapa bisa begini? Tanganku mengisyaratkan untuk menunggu sebentar.
Mereka mengangguk.
Ya Allah, bagaimana ini. Tolong
titipkan suara lagi kepadaku, agar aku tidak mengecewakan semuanya. Aku mohon
Ya Allah. Keringatku menetes dari pelipis sebesar butir jagung. Aku semakin
gelisah.
Lima menit berlalu. Karena aku terus
memohon, ada keajaiban. Dengan Kuasa Nya, suaraku kembali normal. Alhamdulillah. Mataku berkaca-kaca,
segera meminta maaf kepada semua.
Acara inti tiba. Aku berdiri, sedikit
mendekat dengan peserta seminar yang duduk lesehan. Moderator mulai menjalankan
tugasnya, aku juga mulai berbicara. Rasa nervous
menghampiri terus, yang membuat kata-kataku menjadi tak tertata seperti latihan
di kamar kemarin. Alamak, kacau sudah acara ini.
Sangat terlihat, semua yang
menyaksikanku tidak paham dengan apa yang ku maksud. Sangat fatal bukan?
Padahal itu baru di bagian awal materi. Dan mereka sepertinya juga sudah
kecewa, lalu mereka ngobrol satu sama lain. Ya Allah, bantu aku. Aku semakin
gugup. Sementara suasana semakin gaduh.
MC mendekat, sedikit berbisik. Aku
memutuskan ingin mengundurkan diri saja. Karena, hari ini menurutku benar-benar
a bad day. Tidak biasanya,
kepercayaan diriku sampai seperti ini. Tidak lama kemudian, panitia berkata
lain. Aku tidak boleh mundur lantaran hanya masalah seperti ini. Oke, aku akan
coba lagi semampuku. Bismillah. Aku
menenangkan diri. Sekali lagi, aku tak ingin mengecewakan banyak orang. Dengan
kemantapan hati, aku kembali ke depan. Menjelaskan materi berikutnya.
Allah sayang padaku. Ketika aku
kembali maju, seperti tidak ada halangan apa-apa, dengan mudah aku menjelaskan
semua. Alhamdulillah, segala puji
bagi Allah. Peserta tidak jadi bingung, mereka menjelaskan dengan antusias. Aku
tersenyum senang.
Waktu hampir Dhuhur. Itu artinya, sesi
pertama acara ini akan di tunda untuk istirahat dan makan siang. Baru mau
mengatakan dua kalimat lagi, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Seperti ada
yang menempel di pundak kananku. Aku ragu-ragu. Akan menengok ada apa di pundak
sebelah kanan ini. Belum sempat melihat, salah seorang panitia meneriakiku.
“Mbak Azkiii..itu pundaknya ada
sesuatuu..” teriaknya sangat kencang. Otomatis, aku langsung panik. Berteriak.
“Ada sesuatu apa Dik? Tolong jangan
bercanda.” ujarku keras, sambil jongkok dan menutup muka. Aku benar-benar
ketakutan.
“Anu Mbak, aku juga takut. Bentar ya
Mbak, tak panggilin anak cowok dulu.” kata MC yang bernama Sei. Sepertinya ia
langsung lari.
“Seii..di pundakku ada apa?” ucapku semakin
ketakutan. Sekaligus menambah penasaran.
“Mbak tenang dulu, diem aja ya. Kita
ambilin kayu.” ujar panitia yang lain. Mereka banyak yang menjaga jarak
denganku. Sebenarnya ada apa di pundakku? Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Ada rasa khawatir juga.
Entah bagaimana suasana siang itu, aku
masih tak peduli. Mungkin semua orang yang disitu melihatku dengan tanda tanya.
Entahlah.
*****
Pukul 04.30. Alarmku berbunyi.
“Bukkk!!” badanku terjatuh dari dipan.
Sakit.
Aku membuka mata, mengerjap-ngerjap.
Menguap. Mulai duduk, mematikan alarm di HP. Penglihatanku menatap seluruh
kamar, dan juga pakaian yang aku kenakan. Apakah barusan aku mimpi buruk? Aku
mengingat. Ah ya, benar. Aku mimpi buruk tentang seminar pertamaku. Mataku
langsung terbuka lebar. Mengingat mimpi terakhir yang sangat membuatku
dag-dig-dug, malu, sampai akhirnya terbangun. Aku menjerit sekuat tenaga karena
yang menempel di pundakku saat itu ternyata ulat bulu. Hii. Hal itu benar-benar
kejadian yang sangat membuatku malu di dalam mimpi tadi. Sebab, jika aku sudah
dihadapkan dengan makhluk menggelikan itu, mau tidak mau, yang keluar pertama
dari mulutku yaitu menjerit. Dan ulat bulu adalah salah satu phobiaku dari
kecil. Ya ampun, aku sangat tidak menyangka, akan mimpi seperti itu. Untung saja,
hanya mimpi. Aku benar-benar menghela nafas panjang. Lega.
Aku lupa. Tidak membaca doa sebelum
tidur. Ya Allah, ampuni aku. Kataku dalam hati. Mungkin, mimpi tadi terbawa
suasana hatiku semalam. Suasana hati yang sangat bingung menghadapi acara besar–seperti
dalam mimpiku barusan–yang akan diadakan besok Minggu. Yaitu seminar. Semoga
mimpi tadi tidak kenyataan. Kataku sambil meng-amini dalam hati. Aku mulai
beranjak dari dipan. Melipat selimut, menata bantal dan guling, serta pergi ke
kamar mandi untuk shalat Subuh. Adzan baru saja berkumandang.
*****