اهلا و سهلا

اهلا و سهلا

Senin, 21 April 2014

cerpen lamaku :)

Seminar Pertamaku

Aku membuka lemari. Mencari-cari baju terbaikku. Dimana pula baju biru favoritku itu. Mengacak seluruh isi lemari. Kembali melirik jam. Aku semakin buru-buru, tidak ingin datang terlambat di acara pentingku. Acara yang sudah lama ku inginkan. Ya, aku tidak boleh datang terlambat. Batinku lagi.
Lima menit lagi, jam menunjukkan pukul 10.00. Baju biruku tetap tidak ketemu. Oh tidaak, aku lupa. Ternyata baju favoritku itu ada di cucian. Belum ku cuci pula. Aku menepuk jidat. Segera mencari baju lain. Aduuh, baju yang sudah kusetrika hanya baju merah. Bagaimana mungkin aku akan memakai baju kebesaran hadiah ibu itu? Huft. Benar-benar menyebalkan. Sekarang aku mencari rok. Rok hitam? Oh ya, masih ku gantung di pintu. Dengan buru-buru sekali, aku mengambilnya. Ya ampun, rok hitam ini sangat kotor. Terakhir aku pakai, ketika acara outbond tiga hari yang lalu. Sangat terpaksa, kupakai saja rok itu. Sebab, aku tak mempunyai rok bersih, rapi, dan harum selain rok tadi.
Gawat. Sekarang jam 10.20. Aku hanya punya waktu sepuluh menit untuk sampai di lokasi seminar. Waktu yang singkat. Padahal, jarak kos-kosanku ke lokasi memakan waktu yang lumayan lama. Aduuh, aku payah. Tidak bisa mengira-ngira waktu dengan baik. Gerutuku. Jika saja aku tak bangun kesiangan, pasti tidak akan seperti ini.
Aku bercermin. Menatap diriku lamat-lamat. Merasa aneh dengan ‘kostum’ yang aku kenakan. Rok hitam, dengan atasan merah menyala motif bunga yang kedodoran, serta jilbab merah muda yang menempel di kepalaku. Melihat diriku saja, aku malu. Bagaimana jika bertemu banyak orang nanti? Aku menghela nafas. Mencoba menenangkan diri, berpikir positif dan husnudzan saja.
HP ku berdering. Pasti dari panitia seminar. Dengan sigap, langsung ku angkat.
Assalamualaikum,” sapaku.
Waalaikumussalam. Bagaimana Mbak? Sudah sampai mana? Perlu dijemput?” tanyanya. “Para peserta seminar sudah banyak yang menanti kedatangan Mbak Azki.”
“Maaf Dik, aku baru mau berangkat. Tolong tunggu sebentar, mungkin perjalanannya sekitar sepuluh menit.” kataku menenangkan.
“Baik Mbak, kami tunggu. Wassalamualaikum,”
Waalaikumussalam.”
“Klik.” panggilan sudah di akhiri.
Aku segera keluar kamar, mengunci pintu, mengambil motor. Aku benar-benar terlambat. Perlahan, aku mulai meninggalkan kos tepat pukul 10.30.
Di tengah perjalanan, aku terjebak macet. Alamak, aku paling tak sabar jika harus menunggu di jalan berjam-jam. Akhirnya, aku putuskan untuk berjalan kaki. Motor Honda Beat ku, dititipkan di tempat penitipan motor. Untung saja, ada tempat itu. Oke, tak apalah aku jalan kaki. Jaraknya juga sudah dekat.
Setibanya di lokasi seminar, aku benar-benar gerah. Berjalan buru-buru dengan jarak jauh, di tambah sinar matahari yang sangat menyengat, langsung membuatku berkeringat. Tak sempat meluruskan kaki, aku langsung disambut oleh panitia seminar. Ia mengenakan almamater dan rok biru SMP. Aku mengisi acara di almamaterku sendiri. SMP Negeri Tunas Melati. Sekarang aku sudah kelas XII, di SMA Negeri I Malang. Tiba-tiba, tanpa kusadari beberapa wartawan datang menghampiriku.
“Siang Mbak, bisa minta keterangannya sebentar?” tanya seorang perempuan berambut pendek, dengan tangan membawa microphone. Seperti disengat listrik, aku bingung harus melakukan apa. Beruntung, panitia seminar buru-buru mengajakku ke aula. Meminta wawancaranya di tunda.
“Mari Mbak Azki, kita ke aula.” ajak remaja itu yang bernama Resti. Ia Sie Humas.
Anak tangga ku lewati. Jantungku berdebar tak beraturan. Ini kali pertama aku diminta menjadi pembicara untuk acara seperti ini. Selain itu, aku juga diminta ‘membedah’ novel perdanaku yang baru bulan lalu dicetak. Ku atur nafas, berusaha se-rileks mungkin. Aku pasti bisa. Yakinku di dalam hati.
Sekarang, kakiku sudah memasuki aula. Kulihat peserta yang hadir. Wow, penuh. Semua mata tertuju padaku. Ah, aku malu. Apalagi, dengan ‘kostum’ aneh ini. Tidak, aku tidak boleh suudzan. Mungkin mereka hanya penasaran, yang mana pembicara seminar ini. Aku mencoba menenangkan diri, dengan mengamati ruangan. Aula ini sudah agak berubah. Tepatnya lebih bagus dan lebih nyaman.
“Baiklah, narasumber kita telah hadir. Mari kita beri aplause..” ujar salah satu MC dengan intonasi yang tepat. Tepuk tangan sangat riuh, aku sedikit nervous. Menghela nafas.
Panitia mempersilakanku duduk. Tidak lama, Sie Konsumsi datang membawa snack dan air mineral. Alhamdulillah, aku lega. Akhirnya bisa minum juga. Aku sangat haus.
“Terimakasih,” kataku sambil tersenyum. Dengan diam-diam, aku mencuri waktu untuk minum sebelum acara resmi dimulai.
Baru minum seperempat, ternyata MC sudah mempersilakan berbicara di acara inti.  
“Uhuk,” aku tersedak. Sakit sekali rasanya. Para MC melihatku, apalagi peserta seminar–yang ingin acaranya segera dimulai.
Moderator yang ada di sebelahku bertanya, apakah aku baik-baik saja. Aku tak bisa menjawab. Aduuh, bagaimana bisa? Suaraku tiba-tiba saja seperti menghilang bagaikan angin lalu. Ya Allah, aku mohon. Jangan biarkan semua yang ada disini menungguku. Kata hatiku yang terus memohon.
“Bagaimana Mbak? Sudah mendingan?” tanya moderator lagi. Sama saja, aku masih belum bisa bersuara dengan baik. Ada apa ini? Kenapa bisa begini? Tanganku mengisyaratkan untuk menunggu sebentar. Mereka mengangguk.
Ya Allah, bagaimana ini. Tolong titipkan suara lagi kepadaku, agar aku tidak mengecewakan semuanya. Aku mohon Ya Allah. Keringatku menetes dari pelipis sebesar butir jagung. Aku semakin gelisah.
Lima menit berlalu. Karena aku terus memohon, ada keajaiban. Dengan Kuasa Nya, suaraku kembali normal. Alhamdulillah. Mataku berkaca-kaca, segera meminta maaf kepada semua.
Acara inti tiba. Aku berdiri, sedikit mendekat dengan peserta seminar yang duduk lesehan. Moderator mulai menjalankan tugasnya, aku juga mulai berbicara. Rasa nervous menghampiri terus, yang membuat kata-kataku menjadi tak tertata seperti latihan di kamar kemarin. Alamak, kacau sudah acara ini.
Sangat terlihat, semua yang menyaksikanku tidak paham dengan apa yang ku maksud. Sangat fatal bukan? Padahal itu baru di bagian awal materi. Dan mereka sepertinya juga sudah kecewa, lalu mereka ngobrol satu sama lain. Ya Allah, bantu aku. Aku semakin gugup. Sementara suasana semakin gaduh.
MC mendekat, sedikit berbisik. Aku memutuskan ingin mengundurkan diri saja. Karena, hari ini menurutku benar-benar a bad day. Tidak biasanya, kepercayaan diriku sampai seperti ini. Tidak lama kemudian, panitia berkata lain. Aku tidak boleh mundur lantaran hanya masalah seperti ini. Oke, aku akan coba lagi semampuku. Bismillah. Aku menenangkan diri. Sekali lagi, aku tak ingin mengecewakan banyak orang. Dengan kemantapan hati, aku kembali ke depan. Menjelaskan materi berikutnya.
Allah sayang padaku. Ketika aku kembali maju, seperti tidak ada halangan apa-apa, dengan mudah aku menjelaskan semua. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Peserta tidak jadi bingung, mereka menjelaskan dengan antusias. Aku tersenyum senang.
Waktu hampir Dhuhur. Itu artinya, sesi pertama acara ini akan di tunda untuk istirahat dan makan siang. Baru mau mengatakan dua kalimat lagi, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Seperti ada yang menempel di pundak kananku. Aku ragu-ragu. Akan menengok ada apa di pundak sebelah kanan ini. Belum sempat melihat, salah seorang panitia meneriakiku.
“Mbak Azkiii..itu pundaknya ada sesuatuu..” teriaknya sangat kencang. Otomatis, aku langsung panik. Berteriak.
“Ada sesuatu apa Dik? Tolong jangan bercanda.” ujarku keras, sambil jongkok dan menutup muka. Aku benar-benar ketakutan.
“Anu Mbak, aku juga takut. Bentar ya Mbak, tak panggilin anak cowok dulu.” kata MC yang bernama Sei. Sepertinya ia langsung lari.
“Seii..di pundakku ada apa?” ucapku semakin ketakutan. Sekaligus menambah penasaran.
“Mbak tenang dulu, diem aja ya. Kita ambilin kayu.” ujar panitia yang lain. Mereka banyak yang menjaga jarak denganku. Sebenarnya ada apa di pundakku? Aku terus bertanya-tanya dalam hati. Ada rasa khawatir juga.
Entah bagaimana suasana siang itu, aku masih tak peduli. Mungkin semua orang yang disitu melihatku dengan tanda tanya. Entahlah.

*****

Pukul 04.30. Alarmku berbunyi.
“Bukkk!!” badanku terjatuh dari dipan. Sakit.
Aku membuka mata, mengerjap-ngerjap. Menguap. Mulai duduk, mematikan alarm di HP. Penglihatanku menatap seluruh kamar, dan juga pakaian yang aku kenakan. Apakah barusan aku mimpi buruk? Aku mengingat. Ah ya, benar. Aku mimpi buruk tentang seminar pertamaku. Mataku langsung terbuka lebar. Mengingat mimpi terakhir yang sangat membuatku dag-dig-dug, malu, sampai akhirnya terbangun. Aku menjerit sekuat tenaga karena yang menempel di pundakku saat itu ternyata ulat bulu. Hii. Hal itu benar-benar kejadian yang sangat membuatku malu di dalam mimpi tadi. Sebab, jika aku sudah dihadapkan dengan makhluk menggelikan itu, mau tidak mau, yang keluar pertama dari mulutku yaitu menjerit. Dan ulat bulu adalah salah satu phobiaku dari kecil. Ya ampun, aku sangat tidak menyangka, akan mimpi seperti itu. Untung saja, hanya mimpi. Aku benar-benar menghela nafas panjang. Lega.
Aku lupa. Tidak membaca doa sebelum tidur. Ya Allah, ampuni aku. Kataku dalam hati. Mungkin, mimpi tadi terbawa suasana hatiku semalam. Suasana hati yang sangat bingung menghadapi acara besar–seperti dalam mimpiku barusan–yang akan diadakan besok Minggu. Yaitu seminar. Semoga mimpi tadi tidak kenyataan. Kataku sambil meng-amini dalam hati. Aku mulai beranjak dari dipan. Melipat selimut, menata bantal dan guling, serta pergi ke kamar mandi untuk shalat Subuh. Adzan baru saja berkumandang.
*****

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar